Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, A.Md; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel

Berita

Indeks Kesehatan Laut : Apa itu ?

E-mail Print PDF


Jakarta - (14 April 2016) Pengenalan Indeks Kesehatan laut yang diadakan oleh P3SDLP bekerja sama dengan Conservation International Indonesia selama dua hari tersebut, mendatangkan dua pemateri yang berasal dari Amerika Serikat, yaitu Eric Pacheco selaku SeniorManager of Ocean Health Index dari Conservation International dan Ning Jiang Mendes selaku Asistent Project Manager Ocean Health Index dari Conservation International, yang tergabung dalam Tim Ocean Health Index. Tim tersebut mengembangkan metode penelitian, mengkomunikasikan hasil dengan pemerintah, pengelolaan laut, penelitian dan masyarakat umum, memanage kegiatan yang sedang dilaksanakan dan pengembangan kedepannya dari Ocean Health Index (OHI).

Materi-materi yang disampaikan antara lain: Kerangka kerja inti dari OHI, Penaksiran OHI, Perencanaan OHI, Pengbentukan OHI, dan Informasi Pemangku Kebijakan dari OHI. Indeks Kesehatan Laut/Ocean Health Index (OHI), yang merupakan kerangka penilaian terpadu pertama yang secara ilmiah menggabungkan unsur penting biologi, isik, ekonomi, dan sosial dari kesehatan laut, memenuhi kebutuhan akan metode komprehensif guna mengukur, mengelola, dan melacak kesehatan laut. OHI mengidentiikasi 10 manfaat atau tujuan dari kesehatan laut serta menilainya dengan menggunakan informasi dan indikator terbaik yang sesuai dengan skala penilaian. Hasilnya mencerminkan seberapa baik seluruh potensi manfaat dan fungsi laut dioptimalkan secara berkelanjutan dibandingkan dengan titik acuan atau target pengelolaan yang ditetapkan oleh pemangku kepentingan setempat.

Indeks Kesehatan Laut menggabungkan manfaat-manfaat utama dari laut pesisir, termasuk manfaat penyediaan (penyediaan pangan, produk alami), manfaat pengaturan (penyimpanan karbon, perlindungan pesisir), dan manfaat budaya (pariwisata dan rekreasi, kepekaan ruang, dan nilai-nilai dari perairan bersih dan keanekaragaman hayati), selain aspek sentral kesejahteraan manusia yang berasal dari beberapa manfaat (peluang perikanan rakyat serta mata pencaharian dan ekonomi pesisir). Transparansi dan komunikasi yang jelas dari proses dan nilai yang dihasilkan merupakan hal yang mendasar dalam melaksanakan penilaian independen OHI+. Petak bunga, seperti yang ditunjukkan di atas, merupakan salah satu cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang beragam.

Berita terkait :


Last Updated on Friday, 15 April 2016 16:41
 

Pokja Perubahan Iklim Disahkan Menteri Susi

E-mail Print PDF

Jakarta (28/03/2016) - Tindak lanjut dari kepedulian Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai perubahan iklim yang terjadi di dunia tertuang dalam dibentuknya tim kelompok kerja (Pokja) yang telah disahkan oleh Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan terhitung tanggal 28 Maret 2016 kemarin. Pokja ini dibentuk mengingat bahwa adanya pengarusutamaan dimensi kelautan dan perikanan pada proses negosisasi, pertemuan, dan luaran konvensi kerangka kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change) serta memperkuat Indonesia dalam mendorong negara maju agar lebih bertanggung jawab dalam pengendalian perubahan iklim. Hal ini juga sejalan dengan mandat dari Manado Ocean Declaration (MOD) bahwa perlu pembentukan pokja perubahan iklim Kementerian Kelautan. Pokja ini terdiri dari 5 bagian yang terdiri dari Pengarah; Tim Eksekutif; Tim Program; Tim Penyusun Bahan Kebijakan dan Perundingan; dan Sekretariat. Tim ini memiliki tugas yang berbeda namun merupakan satu kesatuan. Dari 12 anggota Pengarah, Kepala Badan Litbang KP merupakan salah satu bagiannya dan merupakan Wakil Direktur Eksekutif I dalam Tim Eksekutif. Sedangkan Kepala P3SDLP, Ir. M. Eko Rudianto, M.BUS.IT mendapatkan mandat sebagai Wakil Ketua I dalam Tim Penyusun Bahan Kebijakan dan Perundingan. Beberapa peneliti dari P3SDLP pun turut menjadi anggota dalam Tim Penyusun Bahan dan Kebijakan Perundingan ini. Para peneliti ini antara lain adalah Dr. Ing. Widodo S. Pranowo, M.Sc sebagai Kepala Laboratorium Data Laut dan Pesisir di P3SDLP; Dr. Anastasia Rita Tisiana Dwi K, Ph.D sebagai Ketua Kelti Perubahan Iklim di P3SDLP; Dr. Novi Susetyo Adi sebagai Ketua Kelti Karbon Biru di P3SDLP dan; Dr. Agustin Rustam sebagai anggota Kelti Karbon Biru di P3SDLP. Apresiasi tertinggi untuk keterlibatan peneliti Indonesia dalam menangani perubahan iklim dunia.



Last Updated on Friday, 15 April 2016 09:30
 

Mengkaji Kembali Keinginan Menteri Susi Tentang Buoy Penelitian Kelautan

E-mail Print PDF

Jakarta (14/04/16) - Menteri Susi di awal tahun 2016 telah mempresentasikan salah satu program kerja KKP di tahun 2016 adalah memasang Oceanograhic Mooring Buoy untuk penelitian dan pemantauan ikan di laut. Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) akan mendapatkan mandat dari P3SDLP untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Pada hari yang sama 14 April 2016 di Ruang rapat lantai 4 Gedung Balitbang KP II setelah pembahasan Uji Teknologi Kapal Buatan Nelayan Kepulauan Seribu, dibahas juga terkait TOR dan RAB pengadaan BUOY sebanyak 18 unit untuk kegiatan pemasangan Oceanograhic Mooring Buoy untuk penelitian dan pemantauan ikan di laut. Rapat yang dihadiri oleh para peneliti teknologi kelautan, hidro-oseanografi juga membahas kemungkinan teknologi dan tujuan teknis buoy untuk memenuhi keinginan dari Menteri Susi tersebut. Berbagai aspek didiskusikan antara lain jenis buoy, masalah transfer data, lokasi, kemanan dari vandalisme.



Last Updated on Friday, 15 April 2016 09:32
 

Teknologi Kapal Buatan Kelompok Nelayan Kepulauan Seribu Dikaji Kelaikannya Oleh P3SDLP

E-mail Print PDF

Jakarta (14/04/16) - Kelompok Nelayan di Kepulauan Seribu telah berhasil secara mandiri memproduksi Kapal Pelat Datar untuk memenuhi kepentingan mereka sehari-hari. Kelompok Nelayan yang telah didampingi oleh "Juragan Kapal" dari Universitas Indonesia, meminta kepada Kepala Badan Litbang KP dan Kepala P3SDLP untuk mengkaji kelaikan teknologi yang telah mereka hasilkan. Teknologi Kapal Pelat Datar tersebut telah didaftarkan patennya di Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenhumham. Bertempat di Ruang rapat Gedung II Balitbang KP pada 14 April 2016 dilangsungkan Rapat pembahasan Uji Teknologi Kapal Buatan Nelayan Kepulauan Seribu. Kepala P3SDLP, Ir. M. Eko Rudianto, M.BUS.IT memimpin rapat awal untuk mengkaji kelaikan teknologi kapal buatan Nelayan Kepulauan Seribu tersebut.

Diharapkan Badan Litbang KP, kedepan dapat memberikan rekomendasi teknologi terkait apakah Kapal Non-Kelas tersebut laik jalan dan aman untuk operasional. Dan sejauh manakah Badan Litbang KP, melalui Kelompok Litbang Teknologi Kelautan P3SDLP dapat sebagai pendamping bagi Kelompok Nelayan Kepulauan Seribu dalam meningkatkan teknologi Kapal Pelat Datar hingga mendapatkan Sertifikasi.

Hadir dalam rapat tersebut para peneliti pakar teknologi kelautan, dan Hidrodinamika/Oseanografi, untuk bertukar pikiran terkait, tindak lanjut uji kelaikan teknologi kapal tersebut Diantaranya Ir. Kemal Sinatra , DEA, Roberto Pasaribu, DESS, Drs. B. Realino M.Si, Dr. Widodo S Pranowo, Dr. Sri Suryo Sukoraharjo, Peny Dyah Kusumaningrum, M.Si, La Ode nurman Mbay, M.Si, Agus Sufyan, M.T, Donal Daniel, M.T, Niko Oramahi Naibaho, M.H, Daut A Saputra, S.T, Sofiyan Muji P S.T, Bertha Berlian Borneo,.S.T. Handy Chandra. M.T.


Last Updated on Thursday, 14 April 2016 10:37
 

Pembukaan Lokakarya Pengenalan Indeks Kesehatan Laut

E-mail Print PDF


Jakarta – (13/03/2016) Indeks Kesehatan Laut diperkenalkan di Indonesia melalui lokakarya yang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bekerjasama dengan Conservation International Indonesia, yang dilaksanakan pada hari ini (13 April 2016) hingga besok kamis. Loka karya yang mendatangkan pemateri langsung dari Amerika Serikat antara lain Eric Pacheco dari Conservation International dan Ning Mendes dari University of California Santa Barbara. Lokakarya ini dibuka secara langsung oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan Bapak M. Zulfichar Mochtar. Dalam sesi pembukaan tersebut berkesempatan pula memberikan sambutan oleh dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Maritim, dan dari Conservation International Indonesia. Dalam sambutannya Ibu memberikan dukungan Penuh untuk pembentukan Indeks Kesehatan Laut Indonesia sebagai salah satu pendukung data untuk Capaian Pembangunan Berkelanjutan (Sutainable Development Goal) Indonesia. Hal ini sesuai dengan capaian ke 14 yang mencakup lingkup laut, yang meliputi pesisir, laut dan yang berada didalamnya. Sejalan dengan yang di paparkan oleh Ibu Wahyuningsih Darajati selaku Plt. Direktur Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bapak Sahat M. Panggabean yang juga merupakan Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman turut menjelaskan bahwa dalam mencari capaian-capaian yang berada di dalam SDG’s kita jangan terlalu terpaku dengan target-target yang ada didalam OHI, sehingga tidak terlalu memaksakan apa yang belum dilakukan  sehingga tidak terkesan menjadi “grasak-grusuk” dalam bekerja memenuhi target dalam OHI tersebut.

Materi pertama di isi oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir Ir. Eko Rudianto, M.Bus.IT. mengenai Sekilas Kebijakan Pemerintah Tentang Pengelolaan Ruang Laut/Pesisir Terkait Indeks Kesehatan Laut. Bapak Eko Rudianto mengatakan bahwa Indeks Kesehatan Laut belum ada di Indonesia. Akan tetapi beberapa kebijakan terkait pengelolaan ruang laut di Indonesia yang sudah berjalan, dapat sebagai modal untuk melengkapinya dan untuk menyusun Indeks Kesehatan Laut.


Last Updated on Wednesday, 13 April 2016 20:22
 

P3SDLP Dan FTI-ITB Berkoordinasi Dalam Kegiatan Riset Teknologi Untuk Optimalisasi Produksi Magnesium Hidroksida Dari Bittern

E-mail Print PDF

Bandung (08/04/16) - Salah satu fokus kegiatan Kelompok Penelitian Sumberdaya Air Laut dan Garam P3SDLP-Balitbang KP adalah pemanfaatan produk turunan garam. Sejak tahun 2013 peneliti P3SDLP berupaya mengekstraksi Magnesium dari bittern yang merupakan limbah dari proses produksi garam krosok di tambak. Hasil penelitian dalam skala laboratorium menunjukkan bahwa dari bittern berdensitas 310Be yang ditambah dengan soda api (NaOH) 4% dan dicuci dengan akuades dapat menghasilkan magnesium hidroksida (Mg (OH)2) dengan kadar 80%. Berdasarkan hasil tersebut akan dirancang prototype yang dapat memproduksi magnesium hidroksida dengan kapasitas yang lebih besar dalam kondisi lingkungan yang sebenarnya. Untuk itu, tim peneliti membutuhkan ahli yang berkompeten dalam membuat rancangan prototype tersebut.

Pada tanggal 8 April 2016 bertempat di Rung Rapat Jurusan Teknik Kimia ITB tim peneliti P3SDLP yang terdiri dari Sophia L. Sagala, M.Sc, Dr. Ifan Ridlo Suhelmi dan Rikha Bramawanto, S.Pi berdiskusi dengan para ahli dari Fakultas Teknologi Industri ITB yaitu Dr. Tatang H. Soerawidjaja dari Kelompok Keahlian Energi dan Sistem Pemroses Teknik Kimia, Dr. IDG Arsa Putrawan, Eng. dan     Dr. Winny Wulandari dari Kelompok Keahlian Perancangan dan Pengembangan Produk Teknik Kimia. Diskusi ini  merupakan tindak lanjut dari pertemuan tim peneliti P3SDLP dengan Ketua Program Studi Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITB pada tanggal 29 Maret 2016. Pada diskusi tersebut disepakati beberapa hal terkait kegiatan riset yaitu penentuan tenaga yang akan terlibat, pengumpulan data literatur dan labwork, penajaman spesifikasi produk yang diharapkan serta penentuan parameter utama pembuatan prototype. Sedangkan dari aspek non riset/administrasi ke depan akan diperhatikan payung hukum kerjasama riset dalam bentuk MoU dan/atau perjanjian kerjasama.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memunculkan sejumlah keuntungan bagi petambak dan lingkungan antara lain: peningkatan nilai tambah produk sampingan selain garam, peningkatan kualitas garam karena petambak terhindar dari praktek mencampurkan kembali bittern yang banyak mengandung zat pengotor (impurities)  dengan brine saat membuat kristal garam, mengurangi beban lingkungan yang dapat menyebabkan hipersalinitas pada perairan ketika bittern dilepaskan ke laut.



Last Updated on Tuesday, 12 April 2016 13:14