Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, A.Md; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel

Berita

Milestone Litbang Rekomendasi Sumber Daya dan Teknologi Laut dan Pesisir Tahun 2016

E-mail Print PDF

Adapun kegiatan kunci di tahun 2016, cukup signifikan capaiannya. Terdapat 14 (empat belas) hasil litbang terkait rekomendasi terkait pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir secara berkelanjutan. Rekomendasi Terkait Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Laut dan Pesisir Secara Berkelanjutan tersebut antara lain:

Analisis Karakteristik Dimensi Ekologi Untuk Menunjang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Nunukan. Perairan Nunukan sangat sesuai untuk area budidaya rumput laut khususnya untuk jenis Eucheuma sp., karena: Distribusi nitrat dan logam berat masih dalam batas yang bisa di-toleransi oleh lingkungan; Kecepatan arus 20 – 40 meter/menit, bahkan sampai berkisar 50 cm/dt; Pada waktu surut yang masih digenangi air sedalam 30 – 60 cm; pH antara 7,3 – 8,2; Suhu air laut berkisar antara 27 – 30°C; Salinitas antara 30 – 37 permil, dengan salinitas optimum 33 permil; Sebaran indeks vegetasi pada tahun 2016 menunjukkan data kepadatan vegetasi mangrove yang sangat rendah.

Perencanaan dan Daya Dukung Wilayah Pesisir Berbasis Budidaya Laut di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hasil dari analisis dari daya dukung lingkungan di lokasi penelitian Sekotong, Lombok masih memiliki kondisi perairan yang baik untuk dikembangkan menjadi daerah budidaya. Aktivitas budidaya laut belum melampaui kapasitasnya namun pemanfaatan sumber daya yang ada belum optimal, sehingga perlu adanya pengembangan aktivitas budidaya laut dengan tetap memperhatikan batasannya. Diperlukan adanya kebijakan ataupun guideline terkait pengembangan aktivitas budidaya laut. terutama terkait batasan-batasan sejauh mana pengembangan budidaya laut dapat dilakukan oleh perusahaan maupun kelompok masyarakat.  Hal ini dimaksudkan agar pengembangan budidaya laut tetap dapat terlaksana, namun dapat diawasi dan dikontrol agar tidak melebihi kapasitas yang ada; Rencana pembangunan pelabuhan baru perlu perencanaan yang lebih lanjut begitu pula dengan pengembangan aktifitas pariwisata mengingat pengaruhnya nanti yang akan mengurangi daya dukung di daerah tersebut. Pembangunan diusahakan dapat dilakukan dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutan.

Model Tata Kelola Tambak Garam Rakyat. Pemilik tambak dapat menerima dan mudah memahami konsep penerapan desain layout tambak meskipun terdapat beberapa informasi yang menurut mereka baru diketahui maupun beberapa aspek yang sudah lama dikenal/diketahui namun tidak dipahami maksud atau alasannya; Proses produksi garam menggunakan model yang telah dikaji optimasinya tersebut dapat menghasilkan lebih dari 120 ton per hektar per musim (3,5-4 bulan) dengan kualitas K1. Sehingga pendapatan per musim dari 1 hektar tambak tidak kurang dari 72 juta jika harga perkilo Rp 600,-. Model ini dapat menghindarkan petambak mem-fungsikan kolam kristalisasi sebagai condenser sehingga kualitas garam meningkat karena ikutan pengotor (impurities) gypsum jauh berkurang. Penerapan model ini akan diperkuat dengan menghitung masukan (intake) debit ideal air tua yang dikombinasi dengan laju evaporasi air di setiap tahapan proses, sehingga diharapkan dapat ditentukan pola pengaturan debit air tua yang akan membuat sistem bekerja dengan sendirinya.

Kajian Daya Dukung Sumberdaya Laut dan Pesisir untuk Perencanaan Kawasan Budidaya Laut di Perairan Teluk Saleh. Hasil analisis spasial terhadap kesesuaian kawasan untuk budidaya laut di Perairan Kab. Dompu berhasil ditentukan kawasan yang sesuai untuk budidaya rumput laut dengan luas sekitar 72.515 Ha atau 99,49 % dan kawasan yang sesuai untuk KJA dengan luas sekitar 72.831 Ha atau 99,93% dari luas total wilayah kawasan pengembangan. Hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan di lokasi penelitian, menunjukan terdapat beberapa parameter yang masih melebihi baku mutu untuk budidaya laut seperti nilai fosfat dan nitrat. Kondisi tersebut diduga akibat dari aktivitas perekonomian oleh masyarakat sekitar yang menghasilkan limbah ke perairan, yang dibuktikan dengan nilai parameter tersebut diatas baku mutu di stasiun penelitian yang berlokasi dekat dengan muara sungai. Kondisi ekosistem pesisir meliputi mangrove, lamun dan terumbu karang berada pada kondisi cukup baik dengan indeks keseragaman mangrove bernilai 0.68 berarti keseragaman sedang dan ditemukan dua spesies mangrove yaitu rhizophora stylosa dan rhizophora apiculata. Indeks keseragaman lamun bernilai 0.82 yang berarti keseragaman tinggi dan ekosistem berada dalam kondisi stabil serta ditemukan tiga spesies lamun yaitu enhalus acroides, cymodocea rotundata, dan halodule ovalis. Indeks keseragaman terumbu karang sebesar 3.44 yang berarti keseragaman tinggi dan kondisi ekosistem yang stabil serta ditemukan enam lifeform yaitu coral massive, coral submassiv, coral folios, acropora branching, coral encrusting, dan coral mushroom di lokasi penelitian. Hasil pendugaan daya dukung budidaya KJA dapat diketahui bahwa daya dukung perairan untuk KJA dengan komoditas ikan kerapu adalah sebesar 9,9 – 16,68 ton ikan. Apabila 1 keramba diisi dengan 200 ekor ikan maka keramba yang dapat dibangun sebanyak 50 – 84 buah keramba. Hasil pendugaan daya dukung budidaya Rumput Laut untuk nilai produksi pada unsur N relative tinggi 0.7 ton/th, dengan masa panen selama 7 kali, dengan penggunaan unit long line sebanyak 3 unit, melalui luas ruang perairan 0.4 ha. Hasil kesimpulan ini sebagai rekomendasi tahap awal dan acuan dalam pertimbangan pengambilan kebijakan pengelolaan kelautan dan perikanan di Kabupaten Dompu dan perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan.

Analisis Potensi Ekosistem Pesisir Teluk Bone. Laju Perubahan Luas tutupan mangrove pada zona selatan pada periode tahun 1989 ke 2016, cukup signifikan yaitu mencapai 3.62 Ha/thn. Dari kondisi fisik, kerusakan terumbu karang terjadi akibat tindakan DF (bom dan bius ) dan sedimentasi. Laju perubahan penutupan karang berkisar 2.91 Ha/Tahun. Daya dukung perairan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan kebijakan pngembangan budidaya rumput laut. Untuk mengetahui fluktuasi optimum biocapacity dengan skenario pengelolaan menekan limbah 10% akan menghasilkan biocapacity perairan yang paling tinggi. Analisis Ecological Footprint Produksi (EFP) dan Biocapacity menunjukkan bahwa status ekologi perairan  Teluk Bone = baik. Melakukan manajemen limbah dengan menekan masukan limbah antropogenik ke perairan sebesar 10%.

Kajian Potensi Pencemaran Laut di Perairan Pulau Bintan. Sampel Tar Minyak Mapur-3, Mapur-4 dan Sebong-1 diindikasikan adalah berasal dari crude oil. Sampel Tar Minyak Mapur-3, Mapur-4 dan Sebong-1 menunjukkan kesamaan karakteristik dan genetik asal batuan sumber. Kromatogram GC memberikan indikasi bahwa material organik pembentuk minyak diendapkan di lingkungan anoksik – suboksik. Biomarker sterana m/z 217 dari GCMS menunjukkan bahwa kontribusi bahan organik yang terkandung pada minyak Mapur-3, Mapur-4 dan Sebong-1 berasal dari ganggang (algae) yang diendapkan pada lingkungan lakustrin dengan kondisi anoksik. Distribusi Biomarker triterpana m/z 191 dari GCMS menunjukkan tidak adanya kontribusi tumbuhan darat dan dengan adanya kelimpahan Gamacerana mengindikasikan bahwa senyawa asal pembentuk minyak Mapur-3, Mapur-4 dan Sebong-1 diendapkan di lingkungan lakustrin. Paramater kematangan termal dari fraksi saturat menunjukkan bahwa minyak Mapur-3, Mapur-4 dan Sebong-1 mempunyai tingkat kematangan yang cukup tinggi.

Optimalisasi Kajian Teknologi Spray Dryer untuk Pengeringan Magnesium Hidroksida. Jika pemerintah Indonesia memang berkomitmen dalam mewujudkan tujuan penelitian ini, dimana Indonesia sanggup memproduksi garam magnesium sendiri dalam memenuhi kebutuhan farmasi dalam negeri. Niscaya perekonomian Indonesia akan meningkat terutama masyarakat pesisir pantai khususnya para kelompok petani tambak garam. Hal ini dikarenakan memiliki 2 produk yang dapat dijual, yang pertama adalah garam konsumsi (NaCl) yang diperoleh melalui proses pengeringan tradisional dan yang kedua adalah garam magnesium [Mg(OH)2] dengan mengolah air limbah pembuatan garam menggunakan teknologi modern. Melalui spray dryer proses pengeringan garam magnesium akan lebih cepat dan hasil produksi lebih banyak. Memang teknologi spray dryer membutuhkan biaya yang begitu besar, akan tetapi harga jual garam magnesium yang begitu besar jika dibandingkan dengan harga garam konsumsi.

Kajian Potensi Sumber Daya Arkeologi Maritim di Perairan Pulau Laut, Natuna. Terdapat 3 lokasi di Kawasan Perairan Pulau Laut, Natuna yang merupakan wilayah terdepan NKRI berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan pemanfaatan sumberdaya arkeologi maritim berkelanjutan yang dipadu dengan keindahan ekosistem bawah lautnya dalam kerangka konsep Taman Bawah Laut Eko-Arkeologi (Marine Eco-Archaeological Park). Lokasi tersebut adalah Kawasan Perairan Karang Panjang ( 20 ), Karang Kie (16) dan Kawasan Perairan Pulau Sekatung (15), sementara itu satu lokasi yaitu lokasi kapal kayu masih belum dapat di analisis dikarenakan tidak cukupnya data pendukung. Konsep ini diusulkan dapat berjalan selaras dengan rencana pengembangan wilayah Natuna oleh KKP dan Presiden RI.

Penyusunan Basisdata Laut dan Pesisir di Pulau Terdepan. Pulau terdepan yang disusun adalah Pulau Tanimbar, Pulau Biak, dan Pulau Rote. Masing-masing dari pulau tersebut, dihasilkan dataset (70 peta/pulau, 8 grafik validasi/pulau, dan 8 grafik batang/pulau) yang siap digunakan oleh para pengguna terkait dengan data dasar (baseline) oseanografi serta ekosistem laut dan pesisir. Parameter dari dataset pembuatan peta dan grafik adalah suhu, salinitas, arus laut, oksigen terlarut, diatom, pH, fosfat, nitrat, silikat, batimetri, kerentanan pesisir, indeks kondisi terumbu karang, dan keanekaragaman hayati.

Kajian Interaksi Laut Atmosfer Terhadap Karakteristik Hidrodinamika Perairan Selatan Jawa Untuk Sistem Informasi di Sentra Nelayan. Suhu permukaan laut di perairan selatan jawa pada kurun waktu Agustus – Oktober 2016 cenderung mengalami kenaikan. Suhu permukaan laut tidak berbeda jauh dengan suhu udara bulanan yang tercatat pada kurun waktu yang sama. Kecepatan pergerakan arus pada kurun waktu Agustus – Oktober mengalami penurunan dengan arah arus dari Tenggara menuju Barat Laut.

Kajian Dampak Pegembangan NCICD pada Desain Hijau Tanggul Laut Jakarta. Keberadaan hutan mangrove (topografi/batimetri dan tegakan pohon) mereduksi secara signifikan energi gelombang datang (lebih dari 50%) sehingga mengurangi ongkos konstruksi tanggul beton di belakangnya. Keberadaan pulau reklamasi akan mengubah karakteristik perairan hutan mangrove Angke. Kondisi lingkungan perairan di sekitar hutan mangrove harus diperbaiki untuk menjamin keberlangsungan konsep “tanggul hijau”. Kerjasama penelitian terjalin Judul: Investigasi pengurangan dampak kerusakan pantai dengan hutan bakau melalui pemodelan numerik, Mitra: Telkom University Bandung (hingga 2018).

Analisis Kebijakan dan Kajian Khusus Pengelolaan Sumber Daya Laut dan Pesisir. Terdapat 4 kajian analisis, yakni: Analisis Kebijakan Reklamasi Pulau C, D, dan G di Teluk Jakarta, dengan rekomendasi: Segera membuat alur antara Pulau C dan D, membangun tanggul di Pulau C, melakukan pengerukan sedimen di selatan Pulau C dan D, dan membuat kanal di kawasan mangrove agar suplai air laut tidak terganggu. Memperlebar jarak antara Pulau G dengan daratan, sekurang-kurangnya 700 meter dari titik surut terendah agar tidak mengganggu aktivitas nelayan, mengurangi laju sedimentasi, dan tidak mengganggu proses perawatan pipa bawah laut serta operasional PLTU/PLTGU Muara Karang. Untuk analisis Blue Carbon: Pembahasan aspek sains dan kebijakan  dalam penyusunan rekomendasi akan dilanjutkan pada agenda selanjutnya. Sedangkan untuk Coral Bleaching Alert System (CoBAS): Upaya pengurangan pemutihan terumbu karang dengan mengoptimalkan INA GOOS/NODC  dan kemampuan prediksi parameter oseanografi  Balitbang KP. Proses penyusunan bahan rekomendasi akan dilaksanakan minggu ke dua bulan desember. Yang terakhir adalah analisis Perpres Litbang Pesisir dan Laut turunan UU No 27/2007 jo UU No 1/200: Penyempurnaan pasal-pasal dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil akan dilanjutkan 2017.


Last Updated on Monday, 16 January 2017 14:39
 

Kunjungan Gubernur Bank Indonesia ke LPTK Wakatobi, KKP

E-mail Print PDF

Jakarta, 16 Januari 2017. Hari jumat tanggal 13 Januari 2017, Bpk Agus Martowardoyo Gubernur Bank Indonesia beserta rombongan sebanyak kurang lebih 25 orang dan didampingi oleh beberapa pejabat Provinsi Sulawesi Tenggara, yakni  Bupati dan Wakil Bupati, anggota DPD RI, serta LSM dan pemerhati lingkungan dan kelautan, datang berkunjung ke Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang terletak di Jl. Ir Soekarno Km 18 Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kedatangan beliau merupakan rangkaian kunjungan ke Wakatobi dalam rangka launching uang pecahan Rp. 10.000 dengan latar belakang Taman Nasional Laut Wakatobi. Salah satu tujuan kunjungan ke LPTK  adalah untuk mengetahui beberapa fasilitas riset yang saat ini telah dimiliki oleh LPTK Wakatobi. LPTK Wakatobi merupakan salah satu pusat perekayasaan teknologi kelautan dibidang alat dan mesin untuk konservasi dan pengawasan laut, pesisir dan pulau-pulau kecil. Beberapa hasil rekayasa yang telah ada yakni dibidang Teknologi Biomassa Laut, Teknologi Pemantauan Laut dan Teknologi Lingkungan Laut.

Untuk teknologi biamassa laut, LPTK Wakatobi telah menciptakan alat ACAH atau Atraktor Cepalopod Harian, yaitu Alat Pancing yang digunakan khusus untuk menangkap Gurita. ACAH ini dioperasikan secara manual maupun otomatis yang digerakan oleh mesin penggerak , sehingga dalam sehari alat ini mampu menangkap gurita dalam kurun waktu yang singkat di lubang-lubang karang. Selain itu adapula riset Teknologi Air Laut dalam, yang bertujuan membuat desain teknologi yang digunakan untuk mengeksplorasi Air Laut Dalam (ALD) agar dapat dimanfaatkan menjadi air minum. Serta riset Perekayasaan Konverter Kit Sistem Hibrid Untuk Kapal Nelayan Berbahan Bakar BBG, yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran BBM di daerah konservasi laut dan tersedianya prototipe kapal nelayan berbahan bakar BBM dan BBG yang terintegrasi dengan Konverter Kit Sistem Hibrid berbahan bakar BBM dan BBG serta dudukan tabung gas pada kapal yang fleksibel,sehingga dapat dipakai sebagai referensi oleh nelayan maupun stakeholder dalam menentukan arah dan kebijakan terkait pemakaian bahan bakar BBG untuk operasional kapal.

Produk perekayasaan di bidang pemantauan laut adalah Si Pembulat atau Sistem Pemantauan Budidaya Laut, yakni berupa perekayasaan teknologi nirkabel untuk visualisasi pemantauan bawah laut dan pengukuran paramater kualitas air laut dapat dipakai sebagai sumber data visual dan numerik yang signifikan, akurat, dan praktis, bagi pihak-pihak yang berkepentingan di bidang pengawasan dan konservasi laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil, khususnya pemanfaatannya dalam budidaya laut yang analisis struktur dan mooring systemnya terintegrasi dalam paket perekayasaan ini. Selanjutnya terdapat  Sistem Informasi Radar (SIMRADAR), meliputi Data Jenis dan Lalu Lintas Kapal di dalam Area Jangkauan. Serta Sistem Informasi Kelautan (SIK) meliputi Instalasi Perekam data Meteorologi dan Oceanografi.

Selanjutnya pada hari sabtu Gubernur Bank Indonesia akan berkunjung ke beberapa pulau dengan menggunakan 2 kapal milik LPTK Wakatobi yakni KM. Mantalinga-Water Jet dan KM. Gurisang.



Last Updated on Monday, 16 January 2017 13:15
 

Perkuat Poros Maritim dengan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

E-mail Print PDF


Jakarta, 13 Januari 2017. Presiden Jokowi, dalam rangka memperkuat poros maritim, pada hari kesepuluh di awal tahun 2017, menetapkan susunan organisasi terbaru di Kementerian Kelautan dan Perikanan. KKP semula memiliki 14 (empat belas) satuan kerja (satker) eselon 1 yang sebelumnya telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden (PERPRES) 63/2015 pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2015 yang lalu. Pada PERPRES 2/2017, tentang Perubahan Atas PERPRES 63/2015 Tentang KKP, satker eselon 1 tersebut diefisiensi menjadi 12 (dua belas). Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Badan Litbang KP) dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP), di-merger menjadi Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP). Sedangkan Staf Ahli (Menteri) Bidang Kebijakan Publik, yang bertugas memberikan rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri yang terkait dengan bidang kebijakan publik, ditiadakan.

Secara fungsi, tidak ada yang dihilangkan dengan terbitnya PERPRES 2/2017 tersebut. Fungsi litbang tetap ada, hanya saja digantikan dengan istilah “riset” yang lebih singkat. Sedangkan fungsi pengembangan sumber daya manusia kelautan dan perikanan juga masih tetap ada. Pada 3 Desember 2016, Menteri Susi Pudjiastuti telah dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) Bidang Kebijakan Pembangunan Kelautan dan Perikanan oleh Universitas Diponegoro.

Diharapkan dengan perubahan tersebut akan dapat menggenjot kinerja KKP dalam mewujudkan Poros Maritim Presiden Jokowi yang telah dituangkan didalam Rencana Kinerja Pemerintah (RKP) 2017 yang ditetapkan melalui PERPRES 45/2016. Diharapkan pula, di tahun 2017 ini, KKP akan lebih mensukseskan Program Pemerintah Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional, yang telah ditetapkan melalui INPRES 7/2016 pada Agustus 2016 yang lalu.


Last Updated on Friday, 13 January 2017 23:51
 

KKP Akan Tindak Lanjuti Resolusi PBB Tentang Kelautan dan Perikanan Serta Hukum Laut Internasional

E-mail Print PDF


Jakarta (13/01/2017) – Bertempat di Ruang Rapat Biro Umum Gedung Mina Bahari (GMB) I Lantai 2 KKP pada Jumat 13 Januari 2017 berlangsung Rapat Tindak Lanjut Resolusi PBB mengenai Sustainable Fisheries dan Oceans and the Law of The Sea. Rapat Dipimpin oleh Dr. Aryo Hanggono Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut KKP. Agenda unmum rapat ini adalah Pembahasan rencana tindak lanjut resolusi PBB No. A/71/L.24 dan Resolusi No. A/71/L.26 serta Hal lainnya yang berkembang dalam rapat. Pertemuan tindak lanjut ini didasari atas telah ditetapkannya resolusi PBB No. A/71/L.24 mengenai Sustainable Fisheries dan Resolusi No. A171/L.26 mengenai Oceans and the Law of the sea dimana terdapat isu kelautan dan perikanan yang perlu ditindaklanjuti antara lain : Sustainable Fisheries, IUU Fishing, Kejahatan Terorganisir di Laut, Penguatan Peran Negara Bendera, Penguatan Ketentuan mengenai Ketenaga kerjaan di Sektor Perikanan; Keselamatan dan Keamanan di Laut, Kerjasama Regional dan Multilateral dan Capacity Building, dan menindaklanjuti hasil rapat anterkementerian yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman pada tanggal 10 Januari 2017 bertempat di Hotel Morrisey, Jakarta.

Turut hadir dalam pertemuan tindak lanjut resolusi PBB diantaranya Dr. Achmad Poernomo (Staf Ahli Menterl Bidang Kebijakan Publik), Koordinator Staf Khusus Satgas 115, Kepala Biro Hukum dan Organisasi, Kepala Biro Perencanaan, Sekretaris Ditjen Perikanan Tangkap,  Sekretaris Ditjen Pengelolaan Ruang Laut, Sekretaris Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Direktur Pendayagunaan Pesisir, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen PRL, Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan lklim, Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Ditjen PRL, Kepala Bagian Kerja Sama Regional dan Multilateral, Biro Kerja Sama dan Humas, Kepala Subbag Kerja Sama PBB, Biro Kerja Sama dan Humas, Dr. Ing. Widodo S. Pranowo (Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir, Balitbang KP).


Last Updated on Friday, 13 January 2017 14:53
 

Setkonas CTI-CFF Rapatkan Barisan Untuk Kegiatan Tahun 2017

E-mail Print PDF


Jakarta (13/01/2017) – Sehubungan dengan penyusunan rencana kegiatan Setkonas CTI-CFF Indonesia tahun 2017, pada Rabu 11 Januari 2017 bertempat di Gedung Mina Bahari II berlangsung rapat  koordinasi terkait kegiatan Setkonas CTI-CFF Indonesia Tahun 2017. Agenda rapat ini adalah tentang Penyusunan Kegiatan tahun 2017 dan beberapa hal lain yang berkembang. Terkait kegiatan di tahun 2017 ada beberapa rencana kegiatan diantaranya adalah Website dan Newsletter, pertemuan rutin pelaksana harian, penyusunan laporan SE ke MKP, penyusunan laporan MKP ke Ketua Komnas, Pertemuan Setkonas dan Pokja, Training GIS, pertemuan finalisasi NPOA, pengesahan NPOA, Loknas CTI-CFF, Costing NPOA, 7th MPA REX on Sustainable Marine Ecotourism in the CT Region, TSWG Workshop and TSWG Meetings Malaysia, Coral Triangle Day, The 5th CCA twg Regional Exchange Meeting, Regional Workshop on CCA CoE establishment (National or Regional), Maritime LGN Executive Courtesy Meeting and Workshops (LGN), 3rd Fishers Forum in The Philippines (EAFM WG), COASTFISH Workshop (EAFM WG), Regional Tuna Governance Workshop (EAFM WG), Conduct of The 6th EAFM TWG Meeting (EAFM WG), Regional Business Forum, Regional Excange of Ideals and Asses Regional Capacity (Capacity Building), Monitoring and Evaluation Working Group Meeting (MEWG), Maritime LGN Annual Meeting dan The 13th Senior Officials Meeting.

Dari pertemuan ini didapatkan kesepakatan antara lain :  1)Surat dari SE Meminta Laporan kegiatan dari Mitra dan Pokja (siap terbit di newsletter don website); 2)Pertemuan khusus membahas penyusunan newsletter don website (tentative tgl 18 Jan 2017); 3)Membentuk Forum tindak lanjut UNEA-2 ;4)Mensinergikan kegiatan di luar rutinitas CTI-CFF (TL UNEA-2 Nairobi dan COP 13 UNFCCC Marakesh); 5)Tema CT-Day 2017 masih Sampah Plastik; 6)Pembaruan Kep Dirjen dengan meminta nama anggota dari setiap Pokja; 7)Laporan dari SE ke Menko sebagai Ketua Komnas tembusan ke MKP sebagai Ketua Harlan; 8)Laporan dari Menko ke Presiden; dan 9)Mendukung akreditasi CTI-CFF1 sebagai lembaga Internasional di PBB. Turut hadir dalam pertemuan Sri Atmini (sekkretaris Ditjen PRL/Wakil Koordinator Pelaksana Harian), Dr. Widodo Pranowo (Kepala Lab Data Laut dan Pesisir/Wakil Sekretaris II Setkonas CTI-CFF Indonesia), Dr. Hendra Yusran Siry (Kasubdit Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim/Sekretaris Wakil I SE), Perwakilan dari Kabag Kerjasama dan Humas Setditjen PRL, Bustamin (Sekretaris Ditjen PRL), Airin Meillisa (Sekretaris Ditjen PRL), A Rizki A. Y (Setkonas CTI-CFF Indonesia), Andriyanto Hilmawan (Setkonas CTI-CFF Indonesia), Tomy Ganda Pratama (Setkonas CTI-CFF Indonesia) dan Imam fitrianto (Sesditjen PRL)



Last Updated on Friday, 13 January 2017 13:51
 

Peneliti P3SDLP Akan Menjadi Pembicara Pada Pelatihan Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP)

E-mail Print PDF

Jakarta, 13 Januari 2017. Peneliti P3SDLP-BadanLitbangKP yakni Andreas Hutahaean, Ph.D dan Dr. Agustin Rustam akan menjadi Pembicara pada salah satu kegiatan Dugong And Seagrass Conservation Project (DSCP) yakni pada acara “Pelatihan Metode Survei dan Pemantauan untuk Dugong dan Habitat Lamun”. Kegiatan pelatihan yang diprakarsai oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama dengan Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, Institut Pertanian Bogor, dan WWF-Indonesia tersebut akan dilaksanakan pada hari Senin-Rabu, tanggal 30 Januari - 1 Februari 2017 bertempat di Pusat Penelitian Oseanografi P2O-LIPI, Ancol.

Pada saat kegiatan pelatihan akan dihadirkan beberapa pembicara ahli baik dari mancanegara  maupun luar negeri, yang akan memberikan materi terkait survei pemantauan dugong dan habitat lamun, yakni antara lain : Prof. Hans de Iong (Leiden University), Kotaro Ichikawa (Kyoto University), Nicholas Pilcher (Marine Research Foundation, Malaysia), Irendra Rajawali (Bonn University), Christophe Cleguer (James Cook University), Prof. Sam Wouythuzen, Wawan Kiswara, Sekar Mira, dan Nurul Dhewani (P2O LIPI), Adriani Sunuddin dan Luky Adrianto (IPB), Dwi Suprapti (WWF-Indonesia).

Topik dari materi pelatihan yang diajarkan meliputi, antara lain: Database, Bioakustik, Pemantauan berbasis masyarakat,  Survei udara ('aerial survey'),  Jasa ekosistem lamun, Penanganan mamalia laut terdampar, dan lain lain. Kegiatan tersebut mengundang para pemangku kepentingan, peneliti, akademisi, dan praktisi konservasi dugong dan habitat lamun di Indonesia untuk turut berpartisipasi aktif dalam pemantauan dugong dan habitat lamun.

Berita Terkait :



Last Updated on Friday, 13 January 2017 14:06