Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, A.Md; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel

Berita

Pusris Kelautan Akan Targetkan Mangrove Di Teluk Jakarta Sebagai Upaya Mitigasi Perubahan Iklim

E-mail Print PDF

Jakarta, 30 Maret 2017. Peneliti Perubahan Iklim Pusris Kelautan pada  tahun 2017 ini akan bersinergi dengan Peneliti Perubahan Iklim Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Perancak untuk melaksanakan penelitian terkait mitigasi perubahan iklim. Perwakilan dari BPOL yakni Frida Sidik, PhD pada hari Rabu tanggal 29 Maret 2017 kemarin diundang oleh Dr. Annastasia Rita T.D.K Ketua kelompok Peneliti Kebijakan Perubahan Iklim untuk koordinasi awal terkait penelitian tersebut. Turut hadir pada rapat koordinasi yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 4 Gedung 1 BalitbangKP tersebut yakni Triyono M.T Kepala Bidang Riset, Mitigasi dan Adaptasi , Hikmat Jayawiguna M.Si Kepala Sub Bidang Mitigasi dan Adaptasi, Dr. Agus Setiawan dan R. Bambang A., MAppSc Peneliti Perubahan Iklim, serta beberapa staff Bidang Mitigasi, Adaptasi dan Konservasi. Dari hasil koordinasi disepakati akan diagendakan penelitian mangrove di Pantai Utara Jakarta, yang terancam punah dengan adanya pembangunan reklamasi, sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Secara umum mangrove merupakan penyerap karbon (carbon sink) yang berpotensi mengurangi emisi karbon. Selain sebagai salah satu upaya mitigasi perubahan ikllim, konservasi ekosistem mangrove juga memberikan peranan penting untuk adaptasi perubahan iklim termasuk perlindungan pantai dan ketahanan pangan masyarakat pesisir. Diharapkan kedepannya hasil penelitiaan ini akan dapat dijadikan salah satu rumusan kebijakan mengenai bagaimana mangrove dapat berkontribusi terhadap isu perubahan iklim.

Berita Terkait :


Last Updated on Thursday, 30 March 2017 12:15
 

Apresiasi Teruntuk Marza Ihsan Marzuki, PhD

E-mail Print PDF

Jakarta, 30 Maret 2017 – Lahir di Pematang Siantar pada Oktober 1976, peneliti muda ini mulai mengabdikan dirinya pada Indonesia sejak awal 2008. Aktif menjadi dosen pengajar beberapa mata kuliah seperti komunikasi multimedia, dasar konversi energi listrik, sistem digital nirkabel dan matematika terapan di Universitas Mercu Buana sejak 2010-2015. Prestasi ini didapatkan setelah beliau berhasil menyelesaikan studi Master Degree-nya di Institute Teknologi Bandung pada 2005. Aktif menulis dengan beberapa hasil tulisannya berjudul “Optimalisasi Perencanaan Jaringan Akses Serat Optik Fiber to The Home Menggunakan Algoritma Genetika” pada 2011 dan “Analisa Propagasi Gelombang Continuous Wave Pada Radio Amatir di Frequency 21 MHz” pada 2016. Baru saja beliau, Marza Ihsan Marzuki mendapatkan gelar PhD-nya di Perancis terkait dengan peran aktifnya di Program INDESO (Infrastructure Development of Space Oceanography) sejak beberapa tahun silam.

“Selamat untuk Marza Marzuki, PhD atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan di Perancis. Semakin memperkuat barisan kita untuk INDESO dan berbagai aplikasi pemanfaatan lainnya. Semoga ilmu yang didapatkan barokah dan bisa bermanfaat bagi negara dan masyarakat banyak. Amien YRA. Sekali lagi selamat. Turut bergembira.” Begitu tutur Kepala BRSDM, Muhammad Zulficar Mochtar.

Berita Terkait :


Last Updated on Thursday, 30 March 2017 09:24
 

Indonesia continues to study impact of Montara oil pollution

E-mail Print PDF


Kupang, E Nusa Tenggara (ANTARA News) - Indonesia has continued to study the impact of the explosion of the Montara oil rig spilling oil causing heavy pollution in the Timor sea in 2009.

Earlier this month, Dr Widodo Pranowo, head of the Marine and Fishery Research Center reported data about the extent of damage caused by the pollution in Indonesian territory to the Coordinating Minister for Maritime Affairs Luhut Pandjaitan at a meeting in Jakarta on the Montana tragedy, Ferdi Tanoni, chairman of a team of advocacy of victims of the Montana disaster, told reporters here on Tuesday.

Tanoni, who was present at the meeting, said the Sea Observation and Research Center has continued to monitor the impact of the Montara explosion since early September, 2009.

He said the results of scientific analysis showed that the dispersion of the oil pollution is wide and had reached area around 68,000 kilometers southeast of the island of Rote by September 10 in 2009.

The sea pollution is feared to expand getting closer to the island of Rote, he said.

The explosion in August 2009 spilled 500,000 liters of crude oil per day to the sea, according to the Australian Maritime Safety Authority.

Luhut Pandjaitan was quoted as saying earlier that after seven years there was still no resolution for those affected by the worst oil spill in the history of Australias offshore petroleum fields.

Fishermen and seaweed farmers in East Nusa Tenggara (NTT)say fish populations were wiped out and seaweed crops died after oil spilled as a result of an explosion at the Montara rig, operated by oil company PTTEP Australasia.

"There is no solution so far and the victims are fishermen in the area. Australia should help out as well to solve this problem," Luhut said, adding , "I dont think we can do it alone."

More than 13,000 seaweed farmers have launched a US$200 million class action in the Federal Court in Sydney against PTTEP Australasia, a subsidiary of Thai state-owned oil company PTTEP.

"We will see what we can do together with the Australian government. Why are we so quiet about this big disaster in our territory when this happened somewhere else? It is annoying," Luhut has said.

PTTEP maintains its position that no oil from Montara reached the shores of Indonesia or Australia and that no long-term damage was done to the environment in the Timor Sea.

An Indonesian official said the Australian Government is not under any legal obligation, but they should also be able to encourage PTTEP to act in good faith.

"PTTEP has never shown good faith in settling this matter. We have met more than 10 times with them, including on the establishment of an independent panel of three persons. However, PTTEP refused to attend the meeting that was aimed at settling the oil spill," he said.

(AS/A014)
(T.SYS/B/H-ASG/A014)

Sumber Berita : Antaranews


Last Updated on Wednesday, 29 March 2017 07:11
 

Selamat Hari Raya Nyepi 2017

E-mail Print PDF



Last Updated on Saturday, 25 March 2017 15:06
 

Mahasiswa Universitas Hannover Jerman Kunjungi ICCOC LPSDKP Bungus

E-mail Print PDF

Jakarta, 27 Maret 2017. Pada hari Jumat tanggal 24 Maret 2017, tim Loka Penelitian dan Sumber Daya Kelautan  Pesisir (LPSDKP) Bungus, Sumatera Barat mendampingi tim dari Universitas Hannover, Jerman yang melakukan kunjungan lapangan ke Bukit Lampu, Bungus.  Tim yang terdiri dari dari 14 orang mahasiswa master dan 2 orang group supervisor dari Ludwig Franzius Institute, Leibniz-Hannover University, Jerman tersebut mengunjungi Indonesia-China Joint Research Station (ICCOC) di Bukit Lampu Bungus, Padang untuk melihat Automatic Weather Station. Selain itu kunjungan ke Bukit Lampu ini juga untuk melihat Bukit Lampu sebagai tempat evakuasi tsunami stay natural tsunami shelter di kawasan ini. Tak lupa mereka melihat pula sisa peninggalan bunker dari masa kolonial Jepang, serta menikmati pemandangan laut, pulau-pulau, perbukitan dan daratan dari puncak menara suar yang terdapat di Bukit Lampu.

Keempat belas mahasiwa tersebut adalah : Sophie Ekau, Andrea Gelimers, Yasmin Hashemi, Julia Kallage, Weibke Knott, Nina Kohl, Mieke Loock, Joshua Sima Ciba, Tom Kristian Hoffmann, Raoul Heinrich Karl Jankowski, Maurice Jurke, Jannik Meyer, Leon Scheiber dan Jan Tiede,  serta 2 orang supervisor group yaitu : Sven Liesbech dan Miriam Voght. Sedangkan tim LPSDKP yang mendampingi mereka adalah Nia Naelul Hasanah Ridwan, Yunianto, dan Wisnu Arya Gemilang, serta Bapak Salman yang merupakan Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang.


Last Updated on Monday, 27 March 2017 11:56
 

LAUT TIMOR DAN PERAIRAN ROTE TERCEMAR MINYAK MENTAH MONTARA 2009 - 2010

E-mail Print PDF


Pasca terjadinya ledakan sumur pengeboran minyak minyak Montara milik PTTEP Australasia (AA) di perairan teritorial Australia, pada 21 Agustus 2009, yang kemudian tumpahannya memasuki wilayah ZEE Indonesia hingga mencapai wilayah perairan teritorial Indonesia, Pemerintah Indonesia telah melakukan pengukuran kualitas air dan sedimen untuk mengidentifikasi bukti adanya pencemaran di Laut Timor Indonesia. Berdasarkan dokumen yang telah diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup atas nama Pemerintah Indonesia pada tahun 2010, dan beberapa dokumen ilmiah/pendukung lainnya yang terkait ditemukan fakta-fakta sebagai berikut.

Pemantauan 23 Oktober & 3-6 November 2009

Secara umum telah dilakukan pengukuran pasca ledakan Montara 2009, oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Propinsi NTT tentang kondisi kualitas air dan sedimen pada 23 Oktober 2009. Pemantauan kualitas air 3-6 Nopember 2009, dengan menggunakan KN Mina milik Disnav Kupang, adalah yang kedua kali oleh Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan,   KLH   bersama   dengan   Tim   Terpadu. Peserta survei terdiri dari  perwakilan dari berbagai instansi terkait, yaitu: Ditjen Hubla (Dit KPLP Pusat, Adpel Kupang, Disnav Kupang Reporter Humas Hubla); Kementerian  Lingkungan  Hidup  (Asdep  Pengendalian  Kerusakan  Pesisir  &  Laut, Asdep Penegakan Hukum Perdata, dan Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan); Departemen Kelautan dan Perikanan (Dit Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan) POLAIR (Babinkam POLRI dan POLAIR Daerah Kupang); BLHD Provinsi NTT; Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi NTT Dinas Perikanan Propinsi NTT; Dinas Pertambangan Kota Kupang; Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Propinsi NTT; Perwakilan masyarakat nelayan Kupang.

Pemantauan 10-26 Mei 2010

Pengukuran selanjutnya dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2010 untuk memastikan apakah pencemaran minyak Montara 2009 masih berlangsung di Laut Timor dan sekitarnya. Hal ini dilakukan karena Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan adalah sebagai Wakil Ketua Tim Advokasi Penanganan Pencemaran Tumpahan Minyak Akibat Meledaknya Sumur Pengeboran Ladang Minyak Montara 2009, berdasarkan SK Menhub.

Last Updated on Monday, 27 March 2017 13:30 Read more...