Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D, Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo, Dani Saepuloh, A.Md, Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel

Berita

Survei Validasi Usulan Lokasi TES (Tempat Evakuasi Sementara) Di Kota Pariaman

E-mail Print PDF

Pada tanggal 11 s.d 16 Juli  2014 Tim survey P3SDLP yang dipimpin oleh Dr. Dini Purbani, beranggotakan: Yulius M.Si, Muhammad Ramdhan MT., Hadiwijaya L.S. M.Si, Joko Prihantono M.Si, Lestari Cendikia Dewi M.Si, didampingi narasumber dari BPPT Dr. M. Harris Pradono telah melaksanakan survey validasi  usulan lokasi shelter tempat evakuasi sementara (TES) wilayah rawan tsunami di Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Lokasi usulan shelter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pariaman berada di  lima lokasi berikut: 1. Desa Ampalu, 2. Desa Naras, 3. Desa Karang Aur, 4. Desa Taluk dan 5. Desa Pasir Sunur.

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memvalidasi hasil analisis penempatan shelter Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan Tempat Evakuasi Akhir (TEA) di Kota Pariaman yang telah dilaksanakan Tahun 2012. Hasil kajian diperoleh usulan TES berjumlah 23 unit dan TEA berjumlah 15 jalur menuju tempat yang lebih tinggi. Penelitian yang dilaksanakan pada tahun ini dipilih 5 lokasi di wilayah yang sangat memerlukan shelter tsunami.

Adapun Tujuan penelitian adalah 1). Menentukan lokasi shelter yang mudah dicapai dan aman, 2). Mengukur kekuatan bangunan shelter yang sudah ada, 3). Mengukur kemampuan kapasitas shelter agar dapat menampung korban bencana.

Tim survey dibagi menjadi tiga bagian, tim pertama beranggotakan Dr. Harris Mulyo Pradono dan Joko Prihantono M.T melaksanakan pemeriksaan ketahanan konstruksi bangunan di shelter TES yang diusulkan. Bangunan yang diuji konstruksi antara lain: 1. SMPN 2 Kota Pariaman, 2. SDN 15 Ampalu, 3. SDN 05 Marabau,  dan 4. Bekas Kantor Walikota Pariaman. Tim kedua beranggotakan Hadiwijaya Lesmana M.Si. dan M. Ramdhan M.T. bertugas untuk melakukan survey kondisi eksisting tutupan lahan dan jalur evakuasi di sekitar shelter. Tim ketiga dengan anggota Dr. Dini Purbani, Lestari Cendikia Dewi M.Si dan  Yulius M.Si melakukan wawancara dan sosialisasi kepada penduduk yang tinggal di sekitar shelter. Wawancara melibatkan 1. Kepala Sekolah, 2.Tokoh Masyarakat, 3. Tokoh Agama, 4. Pemuda Karang Taruna, 5. Kepala Desa dan 6. Aparat Desa.

Last Updated on Thursday, 17 July 2014 12:04
 

P3SDLP Memiliki Doktor Baru Bidang Ekosistem Lamun

E-mail Print PDF

Agustin Rustam, peneliti P3SDLP, berhasil meraih gelar Doktor setelah melaksanakan ujian terbuka pada hari Rabu, 16 Juli 2014 lalu di FPIK – IPB Dramaga. Dalam mempertahankan disertasi yang berjudul “Kontribusi Lamun Dalam Regulasi Karbon dan Stabilisasi Ekosistem”, Dr. Agustin Rustam diuji oleh Komisi Pembimbing yang terdiri atas Prof. Dr.Ir. Dietriech G. Bengen, DEA., Dr. Ir. Zainal Arifin, M.Sc., Dr. Ir. Jonson Lumban Gaol, M.Si., serta penguji luar yaitu Dr. Achmad Poernomo dan Prof. Dr. Ir. Dedi Soedharma, DEA.  Pada ujian terbuka tersebut hadir pula beberapa peneliti P3SDLP yang ikut menyaksikan dan memberi dukungan.

Adapun topik “Kontribusi Lamun Dalam Regulasi Karbon dan Stabilisasi Ekosistem” dilatarbelakangi oleh masih sedikitnya informasi mengenai potensi lamun baik sebagai individu/spesies maupun sebagai ekosistem dalam menyimpan karbon, serta perannya dalam menjaga stabilitas ekosistem pesisir. Rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi masukan dalam upaya menjaga keberadaan ekosistem lamun.

Selamat kepada Dr. Agustin Rustam.

 

 


 

Last Updated on Thursday, 17 July 2014 11:22
 

Survei Lapangan Nusa Penida dan Nusa Lembongan - Keltibang Kebijakan Perubahan Iklim Dengan STTAL DISHIDROS

E-mail Print PDF

Kegiatan survei lapangan di Keltibang Kebijakan Perubahan Iklim mengenai Kajian Hidrodinamika Perairan Indonesia dan Dampaknya Terhadap Migrasi Musiman Ikan Pelagis dan Kajian Variabilitas Laut-Iklim dan Hidrodinamika di Perairan Indonesia. Untuk kedua lokasi kegiatan ini sama yaitu di Nusa Penida dan Nusa Lembongan, tetapi memiliki tujuan penelitian yang berbeda.

Kegiatan ini menghabiskan waktu selama 8 hari dari tanggal 19 Juni 2014 sampai dengan 26 Juni 2014,  yang terdiri dari survei laut (pengambilan data lapangan) dan survei darat (wawancara, mencari data di instansi). Penanggung Jawab Pelaksana Kegiatan ini adalah Dr. Anastasia Rita Tisiana dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP),  dibantu oleh peneliti lainnya yaitu Dr. Devi Dwiyanti, SKM, M.Si., dan Hari Prihatno, M.Sc., dan staf pelaksana Tri Nugraha, A.md., Wida Hanayasashi, S.Kel., Muallimah Annisaa, S.Kel. Kegiatan ini bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) DISHIDROS dalam pelaksanaan teknis survei lapangan, Mayor Laut. Janjan Rechar sebagai Tenaga Ahli, dan siswa-siswa STTAL yang sedang menyusun Tugas Akhir adalah Kapten Laut. Eko Nuryasin, Lettu laut. Taryono, Serma Mar. Murjiyanto, dan Serka Mar. Baharuddin. Mahasiswa dari Universitas Diponegoro (UNDIP) yang ikut serta adalah Winona Abigail, Novita Ayu Ryandhini, dan Tonny Adam Theoyana.

Untuk kegiatan Kajian Hidrodinamika Perairan Indonesia dan Dampaknya Terhadap Migrasi Musiman Ikan Pelagis, melakukan beberapa pengukuran di lajur yang sudah ditetapkan, dimana dalam lajur itu total terdapat 30 titik stasiun untuk dilakukannya pengukuran. Pengukuran yang dilakukan antara lain Mengukur arus mengunakan ADCP (dipasang secara stasioneri maupun menggunakan kapal untuk pengukuran berdasarkan lajur yang mengcover wilayah penelitian), mengukur kualitas air menggunakan TOA (seperti: pH, DO, Temperatur, Salinitas, Turbidity,dll), pengambilan sampel air untuk analisis klorofil menggunakan Botol Nansen, dan pengambilan Plankton dengan menyaring air laut  menggunakan Plankton Net.

Selain kegiatan pengukuran data oseanografi, dilakukan pengumpulan data perikanan guna mendukung Kajian Variabilitas Laut-Iklim dan Hidrodinamika di Perairan Indonesia dengan melakukan kunjungan ke instansi terkait, yakni Departemen Peternakan Perikanan dan Kelautan, Badan Pusat Statistik (BPS), Ditjen Perikanan Tangkap, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) - Wilayah III Denpasar.


Last Updated on Wednesday, 16 July 2014 10:14
 

Selamat Buat Peneliti P3SDLP Agustin Rustam

E-mail Print PDF

Peneliti P3SDLP Agustin Rustam akan melaksanakan ujian akhir program doktor pada hari rabu 16 juli 2014 pukul 14.00 WIB bertempat di Ruang Diskusi Fakultas Lantai 3 FPIK - IPB Dramaga, yang akan mempertahankan  disertasinya dengan judul "Kontribusi Lamun Dalam Regulasi Karbon dan Stabilisasi Ekosistem". Keluarga besar P3SDLP mengucapkan selamat dan mendoakan semoga ujiannya lancar dan sukses.


Last Updated on Tuesday, 15 July 2014 10:02
 

Koordinasi Kegiatan Riset Geodinamika dan Sumberdaya Arkeologi Maritim Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) di Natuna

E-mail Print PDF

Tim Keltibang Geodeep-P3SDLP (Rainer A. Troa, M.Si; Joko Prihantono, M.Si; Ira Dillenia, M.Hum) yang didampingi oleh Kabid Tata Operasional  (Ir. Kemal Sinatra, DEA) pada tanggal 24 – 26 Juni 2014 telah melakukan perjalanan dinas dalam rangka koordinasi kegiatan riset yang telah dilakukan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan riset yang dilakukan dalam kawasan ini adalah riset geodinamika dan pengembangan potensi sumber daya arkeologi maritim. Seperti telah diketahui bahwa Natuna merupakan wilayah terdepan/terluar NKRI yang berada dalam Kawasan Laut Cina Selatan, sehingga kegiatan riset yang dilakukan ini akan memiliki nilai strategis untuk pengembangan kawasan pulau-pulau terluar Indonesia. Salah satu aspek yang ingin dikembangkan adalah sumberdaya arkeologi maritim yang potensinya tersebar luas dalam kawasan daratan dan perairan Natuna. Pengembangannya akan diarahkan sesuai dengan arah dan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pengembangan wawasan dan budaya bahari. Dalam hal ini, telah dilakukan pemaparan rencana strategis kegiatan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna serta koordinasi kegiatan dengan Museum Sri Serindit Natuna.

Untuk kegiatan riset geodinamika, telah dilakukan kegiatan pengecekan kondisi terkini Stasiun Seismik P3SDLP di Natuna yang dibangun dari hasil kerjasama riset dengan Second Institute of Oceanography (SIO), China. Sistem panel surya, sistem perekaman data, dan peralatan seismometer yang telah dipasang pada tahun lalu, saat ini berada dalam kondisi normal dan berjalan dengan sempurna sehingga data rekaman seismik telah didapatkan dengan baik. Dalam hal ini, rutinitas dalam melakukan pengunduhan data sangat penting sehingga kebutuhan tenaga honorer sebagai operator mutlak diperlukan. Pada saat kunjungan ke Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna, telah dilakukan diskusi dengan Kepala Dinas (Bpk. Wahyu Nugroho) terkait kegiatan riset dan kebutuhan penunjang yang diperlukan di sana. Di akhir diskusi, Ir. Kemal Sinatra, DEA selaku Kabid TO yang mewakili Kepala P3SDLP Dr. Budi Sulistiyo menyerahkan buku-buku hasil kegiatan riset P3SDLP di Natuna. Dalam hal memenuhi kebutuhan tenaga operator Stasiun Seismik Natuna, telah diserahkan SK dan Uraian Tugas kepada sdr. Andika Nurdiawan, Amd. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, operator stasiun seismik ini telah diberikan pelatihan oleh Tim Keltibang Geodeep terkait tugasnya untuk melakukan pengecekan rutin kondisi peralatan dan sistem perekaman data yang ada, pengunduhan dan pengiriman data, pencatatan logbook kerja, serta koordinasi perawatan, kebersihan, dan keamanan fasilitas Stasiun Seismik P3SDLP di Natuna.(Geodeep, 2014)


 

Menelusuri Situs Bangkai Kapal Jepang Di Gorontalo

E-mail Print PDF

Taman Laut Olele di GorontaloTaman Laut Olele di Gorontalo

Tak banyak yang tahu bahwa perairan Gorontalo menyimpan potensi obyek wisata laut yang menjanjikan selain keindahan gugusan terumbu karangnya. Sama halnya dengan Tulamben Bali, Gorontalo juga memiliki sebuah obyek kapal kargo Jepang (Japanese Cargo Wreck) yang tenggelam pada masa penjajahan. Lokasi tersebut hanya diketahui oleh masyarakat setempat maupun para penyelam lokal, namun tidak oleh masyarakat umum. Literatur maupun sejarah tenggelamnya kapal tersebut juga tidak bisa ditemukan dengan mudah melalui penelusuran di internet maupun buku. Kecuali kendaraan khas Gorontalo yakni bentor (becak motor), tidak ada sarana angkutan umum lain yang tersedia untuk mencapai lokasi tersebut. Pengunjung juga tak akan menemukan papan informasi maupun penunjuk arah.

Jika memilih naik bentor, pengunjung akan mengeluarkan uang sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu untuk sampai di Japanese Cargo Wreck yang terletak di Kelurahan Leato Selatan Kota Gorontalo itu. Jarak tempuh sekitar 10 menit dari jantung kota.Para penyelam lokal biasanya turun ke tempat bangkai kapal dengan masuk melalui pantai (beach entry). Selain spotnya tak jauh dari bibir pantai, beach entry juga tidak mengeluarkan banyak biaya seperti halnya menggunakan kapal (boat entry). Setelah menggunakan pakaian selam (wetsuit), masker, jaket pengatur daya apung (Bouyancy Control Device), regulator, tabung oksigen, sepatu dan fins, penyelam bisa turun ke dalam laut menuju spot kapal tersebut.

Pada kedalaman 15 meter, penyelam dapat menemukan serpihan bangkai tiang kapal dengan mudah bila ditemani pemandu. Baling-baling kapal dapat ditemukan pada kedalaman 28 meter, dengan bentuk yang masih utuh dan jelas. Sementara bagian haluan kapal terletak di 47 meter dari permukaan laut. Meski termasuk situs kapal tua, namun terumbu karang yang hidup di badan kapal tersebut tidak tumbuh dengan baik. "Hanya ada beberapa jenis soft coral atau karang lunak yang tumbuh. Diduga kapal masih menyimpan bahan bakar minyak di dalamnya sehinga menghambat pertumbuhan karang," kata salah seorang penyelam lokal, Kusbian Indradi yang sering menyelam di lokasi itu.

Mulai Diteliti

Setelah memperoleh informasi mengenai bangkai kapal di Gorontalo, para peneliti dari Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir Kementrian Kelautan dan Perikanan mulai menelitinya dalam sebulan terakhir. Salah seorang peneliti, Nia Naelul Hasanah mengatakan Japanese Cargo Wreck di daerah tersebut dapat ditetapkan sebagai situs cagar budaya bawah air. Untuk mempertegas perlindungan terhadap situs tersebut, pemerintah juga dapat menetapkannya sebagai Kawasan Konservasi Maritim. "Kapal tenggelam merupakan sumberdaya arkeologi laut yang potensial menjadi kawasan wisata bahari. Identifikasi serta penelitian mengenai kondisi lingkungan fisik perairan di lokasi kapal penting untuk mendukung rencana ini," katanya.

Selain mendokumentasikan kondisi seluruh bagian kapal, para peneliti juga mengukur sejumlah parameter penting seperti transpor sedimen, arus, pasang surut, kualitas air, gelombang, ekosistem yang hidup hingga kecepatan angin. Menurut Nia, pihaknya telah mengambil sampel yang dibutuhkan pada sejumlah titik dan masih akan melakukan pengolahan data dan dilanjutkan dengan pengamatan jangka panjang. Sejarah tenggelamnya kapal tersebut juga menjadi bagian dari penelitian yang dilakukan. Kapal kargo tersebut diperkirakan tenggelam 70 tahun yang lalu, atau pada masa penjajahan Jepang antara tahun 1942-1945. Kapal itu diduga akan berlayar dari Pelabuhan Gorontalo ke luar. Namun dalam perjalanan, terjadi kebakaran pada kapal sehingga kapal berbalik arah menuju pelabuhan lagi. Dalam perisitiwa itu tidak ada korban jiwa karena kapal tidak langsung tenggelam, melainkan sempat berdiam di tepi selama sebulan lebih hingga tenggelam dengan sendirinya.

Mirip Tulamben

Kendatipun belum memiliki fasilitas penunjang bagi wisatawan, tetapi situs kapal di perairan di Gorontalo itu diyakini akan bisa menyaingi ketenaran sirus kapal kargo `USAT Liberty Glo` yang tenggelam di Tulamben Bali. Seorang penyelam pekerja, Abilawa Setyadi yang pernah beberapa tahun bekerja di Tulamben menyebut ada kesamaan pada kedua situs yakni jenis serta usia kapal. "Bahkan situs di Gorontalo memiliki beberapa kelebihan yakni akses yang mudah dan cepat dari bandara maupun pusat kota, karang di sekitar kapal terjaga dengan baik dan visibilitasnya yang oke," ungkapnya. Selain itu, kondisi bangkai kapal di Gorontalo dinilai jauh lebih baik dibanding di Tulamben karena belum mengalami korosi dan perairan yang relatif aman termasuk bagi penyelam pemula. Keindahan taman laut yang ditunjang dengan misteri tenggelamnya kapal itu turut diabadikan oleh fotografer bawah laut, Okki Reffi. Ia mengaku sangat terkesan saat menyelam di situs tersebut, serta memuaskan diri dengan mengambil foto dan video dalam berbagai sudut.  "Selain kapal tenggelam, hamparan terumbu karang yang sehat di sekitarnya menarik perhatian saya,? ujarnya. Walaupun tak banyak ikan besar yang berada di situs itu, kata dia, tapi hanya dari kedalaman tiga meter penyelam akan disuguhi sederet jenis karang yang unik dan beberapa diantaranya tidak ditemukan di perairan lain.

"Japanese Cargo Wreck sangat layak menjadi tujuan wisata bahari, terutama bagi penggemar wreck diving dari negara lain," tukasnya

Sumber : http://www.antaragorontalo.com/berita/6326/menelusuri-situs-bangkai-kapal-jepang-di-gorontalo


Last Updated on Tuesday, 01 July 2014 11:06