Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, A.Md; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel

Berita

Tim Teknis Pembangunan PIAMARI Lakukan Koordinasi Percepatan

E-mail Print PDF

Jakarta, 30 September 2016. Pangandaran Integrated Aquarium & Marine Research Insitute (PIAMARI) adalah salah satu program direktif menteri kelautan dan perikanan. Hingga September ini telah mengalami beberapa kemajuan yang penting, terutama saat ini sedang melakukan penyusunan Detail Engineering Design (DED). DED saat ini sedang proses redesign lay out dan gedung untuk mengakomodir instruksi menteri yang menginginkan adanya partisipasi dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) KKP membangun gedung Politeknik KP didalam kawasan Marine Center PIAMARI tersebut. Ditargetkan DED dapat diselesaikan minggu kedua Oktober 2016. Saat ini proses pengajuan Multi Years Contract (MYC) juga masih dalam proses.  Rapat dikoordinatori oleh Kepala P3SDLP M. Eko Rudianto. Hadir pula dalam memberikan kontribusi masukan antara lain Kepala Sub Bidang Tata Laksana Donald Manurung, MT, Kepala Sub Bidang Perencanaan B. Realino, M.Si, Dr. Aulia Riza Farhan, Ir. Kemal Sinatra, DEA, La Ode Nurman Mbay, M.Si dan Ir. Arid.

Berita Terkait :


Last Updated on Friday, 30 September 2016 15:24
 

Badai La Nina Hantui Tangkapan Nelayan Jembrana

E-mail Print PDF

JEMBRANA, POS BALI ONLINE – Produksi ikan tangkapan nelayan di Bumi Makepung beberapa bulan terakhir anjlok. Bahkan nyaris tidak ada, dikarenakan cuaca di perairan Selat Bali dan Selatan Bali hingga kini belum norma. Apalagi gelombang air laut yang masih tinggi lantaran terjadi fenomena badai La Nina. Bahkan, kondisi tersebut diperkirakan akan terjadi hingga bulan Maret tahun 2017 mendatang. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Seacorm, Dr. I Nyoman Radiarta saat sosialisasi penerapan Ocean Health Index (OHI) atau Kesehatan Laut Bali di Balai BPOL Seacorm, Dusun Dangin Berawah, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Rabu (28/9).

Sepinya tangkapan atau yang dikenal dengan musim paceklik ikan di Jembrana ini diakibatkan oleh badai La Nina (mendinginnya suhu permukaan air laut akibat menguatnya upwelling. Hal tersebut berdampak terhadap bergesernya musim serta kesehatan atau kelestarian laut sehingga persebaran ikan sangat sulit untuk diprediksi. “Jembrana memang sepi ikannya. Namun, di Jawa muncul ikan tuna yang sebelumnya memang tidak pernah ada. Meskipun kita sudah melakukan analisis dan memetakan potensi ikan di laut Bali, namun penyebarannya tidak menentu karena dipengaruhi oleh iklim,” jelas Dr. I Nyoman Radiarta Kepala BPOL Seacorm.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Laboratorium di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir, Dr. Ing Widodo Setiyo Pranowo. Berdasarkan data statistik yang dikumpulkan pihaknya sejak tahun 2002 lalu, khusus untuk persebaran ikan Lemuru memang terjadi pergeseran yang unik. Yang mana, saat terjadi musim El Nino persebaran ikan tersebut justru meningkat. Namun dengan berakhirnya musim El Nino dan berganti dengan musim La Nina yang dimulai pada bulan Juni 2016 ini diperkirakan persebaran ikan terutama Lemuru berkurang atau hilang sama sekali dari laut Bali.

Berkurangnya persebaran Ikan Lemuru di Bumi Makepung berdasarkan data dari Tempat Penimbangan Ikan (TPI) di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara. Berdasarkan data dari Koordinator TPI Pengambengan, I Putu Adi Astawa menunjukkan penurunan yang sangat drastis terutama pada bulan Juli-Agustus 2016. Bulan Juli 2016 lalu  tangkapan nelayan lumayan banyak mencapai 106.588 kilogram Ikan Lemuru. Namun jumlah tangkapan ini justru turun drastis pada bulan Agustus. Tangkapan Nelayan hanya 32.304 kilogram.

Sumber : Posbali

Berita Terkait :


Last Updated on Friday, 30 September 2016 10:49
 

Paceklik Ikan Lemuru Diprediksi Hingga 2017

E-mail Print PDF

Negara (Antara Bali) - Paceklik ikan jenis lemuru, yang merupakan habitat endemi di Selat Bali, diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Maret 2017 akibat cuaca La Nina.

Hal itu terungkap saat sosialisasi penerapan Ocean Health Index (OHI) atau Kesehatan Laut, yang diselenggarakan Balai Penelitian Dan Obsevrasi Laut (Seacorm) di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Rabu.

"Melihat data dari penangkapan lemuru beberapa tahun terakhir, kami analisa, saat terjadi El Nino hasil tangkap nelayan justru meningkat, sementara saat La Nina cenderung menurun atau bahkan ikan jenis itu menghilang dari Selat Bali," kata Widodo S. Pranowo, dari Pusat Penelitian Dan Pengembangan Sumber Daya Laut Dan Pesisir.

Ia mengatakan, seberapa besar dampak La Nina terhadap hasil tangkap nelayan, tergantung kekuatan anomali cuaca tersebut, yang diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Oktober hingga November.

Menurutnya, apa yang terjadi di Selat Bali terkait keberadaan ikan lemuru, juga terjadi di wilayah lainnya, sehingga ada kecenderungan nelayan penangkap ikan tuna mengarah ke sisi selatan samudera.

"Logikanya, kapal-kapal penangkap tuna pasti mencari keberadaan ikan tersebut. Kapal-kapal itu saat ini mengarah ke sisi selatan samudera, yang kemungkinan besar ikan jenis tuna berada di sana," ujarnya.

Sementara Kepala Balai Penelitian Dan Observasi Laut (Seacorm) Nyoman Radiaka mengatakan, pergerakan ikan sangat dipengaruhi perubahan iklim, sehingga menjadi tantangan bagi pihaknya untuk memberikan peta posisi ikan yang valid.

Ia mengatakan, akibat perubahan iklim, ada di satu daerah yang ikan endeminya menghilang, namun muncul ikan jenis lain yang tidak ada sebelumnya.

"Informasi yang saya peroleh, di perairan Parigi muncul jenis ikan tuna yang tidak ada sebelumnya. Sementara di Selat Bali, ikan lemuru yang habitatnya disini justru menghilang," katanya.

Sudah sekitar empat bulan terakhir, nelayan di Kabupaten Jembrana yang menangkap ikan jenis lemuru mengalami paceklik, sehingga Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara yang biasanya ramai menjadi sepi.

Beberapa nelayan yang ditemui mengatakan, saat berada di tengah laut, mereka sering diterpa badai sehingga tidak bisa menurunkan jaringnya, atau memilih untuk kembali pulang karena berbahaya.

Nelayan penangkap lemuru di Kabupaten Jembrana, menggunakan perahu tradisional yang disebut selerek, dan berangkat berpasangan dengan satu perahu untuk mengangkut jaring dan satu perahu lainnya untuk mengangkut hasil tangkapan.(GBI) (Pewarta: Gembong IsmadiEditor: Gismadi)

Sumber Berita : Antaranews

Berita Terkait : Diterpa La Nina, Nelayan Jembrana Dipastikan Paceklik Lemuru Hingga Maret 2017




Last Updated on Thursday, 29 September 2016 10:15
 

Diterpa La Nina, Nelayan Jembrana Dipastikan Paceklik Lemuru Hingga Maret 2017

E-mail Print PDF

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Sepinya tangkapan ikan Lemuru di laut Kabupaten Jembrana, Bali dipastikan akan berlangsung hingga tahun 2017 mendatang.

Hal tersebut terungkap saat Badan Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Seacorm melangsungkan sosialisasi penerapan Ocean Health Index (OHI) atau Kesehatan Laut di Bali di BPOL Seacorm Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Rabu (28/9/2016) pagi.

Kepala Laboratorium di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP), Dr. Ing Widodo Setiyo Pranowo mengatakan berdasarkan data yang dikumpulkan pihaknya mulai tahun 2002 lalu, persebaran ikan Lemuru yang biasanya ramai di Selat Bali dan pesisir Bali Selatan kini mengalami perubahan.

"Ketika terjadi El Nino ikan Lemuru ini justru meningkat di perairan Bali. Ketika La Nina justru berkurang atau menghilang sama sekali dari Selat Bali," katanya.

"La Nina tahun ini starting pointnya di Bulan Juni dan diprediksi akan berakhir pada Maret 2017 mendatang. Sehingga bisa dipastikan tidak ada ikan Lemuru lagi," tandas Widodo pagi ini. (*) (Penulis: I Gede Jaka Santhosa; Editor: Ida Ayu Made Sadnyari)

Sumber: Tribun Bali



Last Updated on Thursday, 29 September 2016 09:59
 

Prakiraan Pasut Android Telah Tersedia Untuk Lollipop, Marshmallow dan Nougat

E-mail Print PDF

JAKARTA - Prakiraan Pasut merupakan aplikasi berbasis android yang dikembangkan oleh tim Laboratorium Data Laut dan Pesisir (MCDL/Marine Coastal Data Laboratory),P3SDLP - Balitbang KP, yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi tentang keadaan tinggi muka air laut atau sering disebut juga dengan pasang surut laut di 39 Pelabuhan Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), selama 14 hari kedepan. Aplikasi yang tidak berbayar ini diluncurkan pada Juni 2015, mendapatkan tanggapan yang bagus oleh penggunanya, hal ini ditunjukan dengan jumlah pengunduh 5000-10000  (Lima Ribu -  Sepuluh Ribu) pengunduh atau pengguna, Pada bulan September 2016 aplikasi ini sudah diupdate untuk versi terbaru yaitu versi 2.0.0 dimana dapat dijalankan pada Gadget Android Lollipop, Marsmallow dan Nougat. Diharapkan aplikasi ini, kedepan akan semakin banyak pengguna aplikasi Prakiraan Pasut ini baik dari kalangan nelayan, akademisi, peneliti maupun masyarakat umum.

Berita Terkait :


Last Updated on Wednesday, 28 September 2016 13:09
 

Perairan Bali Akan Dijadikan Pilot Studi Indeks Kesehatan Laut Indonesia

E-mail Print PDF

Jakarta, 28 September 2016. Hari ini berlangsung workshop Sosialisasi Penerapan Indeks Kesehatan Laut (Ocean Health Indeks/OHI) di Bali yakni di kantor Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL)  Perancak, Bali pada pukul 09.00 - 15.00 WITA. Kegiatan ini sebagai salah satu tindak lanjut dari rangkaian kegiatan pembangunan Indeks Kesehatan Laut Indonesia (IKLI). Penyusunan IKLI secara nasional dilakukan oleh  P3SDLP, sedangkan pilot studi dilakukan di BPOL, dengan pilot studi pertama adalah perairan Bali. Asumsi yang digunakan dalam hal ini adalah perairan Bali secara umum diduga lautnya masih sehat dengan indikator keanekaragaman hayatinya yang beragam sehingga menarik wisatawan untuk menikmati keindahan alam laut tersebut. Namun secara lebih spesifik, parameter penyusun laut yang sehat tersebut akan dikaji manakah yang lebih dominan. sehingga sinergitas antar lembaga pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup kelautan dan perguruan tinggi sangat penting untuk keberhasilan pilot studi ini. Workshop disambut oleh Kepala BPOL Dr. I Nyoman Radiarta, M.Sc dan dibuka oleh Dr. –Ing Widodo S. Pranowo mewakili Kepala P3SDLP. Workshop yang terselenggara  ini merupakan hasil kerjasama antara BPOL dan Conservation International (CI)  Indonesia cabang Bali, yang dihadiri oleh para peneliti, akademisi Universitas Udayana dan Universitas Warmadewa, Satuan Kerja KKP (Pelabuhan Perikanan Pengambengan, Balai Penelitian Budidaya Laut Gondol, dan sebagainya), Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi  dan Kabupaten.

Berita Terkait :

Last Updated on Wednesday, 28 September 2016 12:07