Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D, Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo, Dani Saepuloh, A.Md, Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel

Berita

Reportase Rakernis P3SDLP 2014: Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Untuk Kesejahteraan Bangsa

E-mail Print PDF

Sekretaris Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. Aryo Hanggono, pada Rapat Kerja Teknis (Rakernis) 24 April 2014 di Singhasari Resort Batu, Malang, menyampaikan pemikiran dan informasi terkait pengelolaan sumberdaya kelautan untuk kesejahteraan bangsa. Beliau mengingatkan kembali amanah Undang undang no. 17/2007 tentang RPJPN 2005-2025 (misi ke-7). Satker yang berkecimpung di litbang kelautan adalah Pusat Litbang Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) dan Pusat Perekayasaan dan Penerapan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP), yang dapat bekerjasama secara sinergi menjalankan amanah misi ke-7 tersebut.

Ocean space technology, ataudikenal juga sebagai ocean remote sensing satellite dapat digunakan untuk pemantauan wilayah negara kepulauan Republik Indonesia yang sangat luas ini. Hal ini untuk mengefisiensikan pembinaan tata kelola laut dan peningkatan pertahanan dan keamanan laut yang menjamin  pengembangan ekonomi kelautan. Sedangkan Mandat KKP yang belum terwadahi antara lain: tata ruang laut nasional diatas 12 mil Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), bio-prospecting untuk sumber keakayaan laut, pengelolaan laut lepas, kerjasama konservasi laut nasional, valuasi ekonomi akibat pencemaran dan ekosistem laut, pengelolaan sumberdaya gunung laut. Sumberdaya mineral dan garam, energi listrik terbarukan dari laut, air mineral laut dalam, dapat lebih digali lagi oleh Badan Litbang KKP sebagai produk-produk litbang terobosan. P3SDLP diharapkan melakukan kegiatan inventarisasi dan karakterisasi sumberdaya laut dan pesisir, untuk kemudian dikorelasikan dengan hasil observasi yang dilakukan oleh BPOL, sehingga kemudian dapat menghasilkan profil-profil sumberdaya laut dan pesisir untuk pengguna.

Badan Litbang KKP dalam waktu dekat akan melakukan penandatanganan kerjasama dengan BMBF untuk kolaborasi riset “Science for Indonesia Marine Ecosystem & Fisheries” (SIMEF). Program nasional “Indonesia Global Ocean Observing System” (INAGOOS) akan terus dikembangkan dengan salah satu kontribusinya adalah dari “Infrastruktur Development for Space Oceanography” (INDESO) untuk melakukan operasionalisasi Oseanografi. Diharapkan operasional oseanografi ini dapat dimanfaatkan oleh kalangan luas dan tentunya P3SDLP dan pusat litbang lain di lingkup Badan Litbang KKP untuk menghasilkan bahan-bahan rekomendasi (Clearing House) dan kebijakan pengelolaan kelautan dan perikanan berbasiskan konsep Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). PPDPI juga akan ditingkatkan kualitas dan resolusinya per spesies berdasarkan model prediksi populasi ikan dan biogeokimia yang menjadi salah satu modul sistem operasional oseanografi dari INDESO tersebut. Impian berikutnya adalah munculnya rintisan konsep regulasi pengaturan musim tangkap ikan dari Badan Litbang KKP kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Dengan semakin lengkapnya data-data yang dihimpun, maka kedepan, P3SDLP diharapkan dapat menjadi “National Clearing House System for marine and Data Information” dan “Backup System” untuk menghubungkan pusat data laut dari Balai Penelitian Observasi Laut (BPOL) di Perancak Bali, dan pusat data perairan umum di Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum (BP3U) di Palembang. Konsep “Blue Carbon Center” yang diusulkan oleh P3SDLP juga sangat didukung beliau karena akan menjadi pusat karbon biru pertama di dunia. Teknologi sistem ulir produksi garam dimungkinkan sangat potensial untuk lebih menggenjot produksi garam nasional.

Sebelum dilakukan penutupan resmi rakernis oleh Dr. Aryo Hanggono, dibacakan rumusan hasil rakernis oleh Kepala Bidang Tata Operasional, Ir. Kemal Sinatra, DEA. Acara penutupan yang dipandu langsung oleh Kepala P3SDLP, Dr. Budi Sulistiyo, berlangsung lancar. Dan pada 25 April 2014 akan dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan Jiwa Korsa yang dipimpin oleh Kepala Sub Bidnag Tata Laksana, Erish Wijanarko, ST.

Baca juga berita:

 


 

Last Updated on Thursday, 24 April 2014 18:10
 

Reportase Rakernis P3SDLP 2014: Pemantapan Roadmap Litbang Sumberdaya Laut dan Pesisir 2015 – 2019

E-mail Print PDF

Kepala Bidang Tata Operasional Pusat Litbang Sumberdaya laut dan Pesisir (P3SDLP), Ir. Kemal Sinatra, DEA, memimpin sesi pemantapan Roadmap litbang sumberdaya laut dan pesisir dari satker P3SDLP dan satker Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LPSDKP) pada acara Rapat Kerja Teknis (rakernis) 24 April 2014 di Singhasari Resort, Batu, Malang.

Roadmap dari 7 kelompok penelitian dan pengembangan (keltibang) dipaparkan oleh beliau di hadapan peserta rakernis. Adapun keltibang yang ada antara lain adalah: Daya dukung sumberdaya pesisir; Kerentanan pesisir; Garam dan sumberdaya mineral laut; Geodinamika dan sumberdaya mineral laut; Karbon Biru; Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir; dan Kebijakan Perubahan Iklim.

Strategi yang dibahas dalam melakukan litbang 2015-2019 sesaui dengan roadmap antara lain terkait kepada sumberdaya manusia, sarana prasarana, output sesaui dengan rencana kinerja pemerintah, sasaran dan target kegiatan, target waktu pencapaian berikut lokasinya, dan karakter kegiatannya. Selain itu dibahas pula kendala yang mungkin dapat dijumpai, seperti kendala terhadap pemenuhan sumberdaya manusia, laboratorium, wahana kerja litbang, dan bengkel kerja, yang disertai dengan strategi operasionalisasi litbang yang dikerjasamakan dengan institusi/ satker lain. Pemantapan strategi ini dipimpin oleh Dr. Tukul Rameyo Adi, Kepala Bidang Pelayanan Teknis P3SDLP.

Rainer Troa, M.Si, Ketua Keltibang Geodinamika dan Sumberdaya Laut Dalam, menanggapi bahwa konsep usulan dari keltibang “Geodeep” dan konsep arahan dan kebijakan dari para pimpinan/ institusi secara umum sudah terintegrasi, tinggal nanti perlu dilakukan penajaman kerangka acuan kinerja teknis agar proses implementasi dalam lebih terpantau. Dr. Agus Supangat, mengajak peserta rakernis lebih mencermati lagi roadmap dan strategi litbang sumberdaya laut dan pesisir, apakah sudah sejalan dengan program-program kebijakan nasional regional dan internasional. Andreas Hutahaean, Ph.D, ketua keltibang Karbon Biru, memberikan perhatian kepada bagaimanakah cara menyikapi arahan dan kebijakan Badan Litbang KP dengan usulan roadmap dan rencana strategis dari Keltibang yang ada. Dr. Taslim Arifin, ketua keltibang Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir, mencermati target-target usulan berupa peta dengan skala tertentu yang harus disandingkan dengan rencana pengelolaan yang ada. Dr. Widodo Pranowo, ketua keltibang Kebijakan Perubahan Iklim, menyampaikan rekomendasi pentingnya dibentuknya pusat data dan informasi ilmiah sumberdaya pesisir dan laut untuk menjembatani hasil keltibang kepada target indikator kinerja utama institusi.

Baca juga berita:

 


 

Last Updated on Thursday, 24 April 2014 16:34
 

Reportase Rakernis P3SDLP 2014: Laut dan Pesisir Sebagai Kekayaan Alam Untuk Pembangunan Ekonomi 2015-2019

E-mail Print PDF

Guru besar bidang Perekayasaan Teknologi Kelautan ITS, Prof. Widi A. Pratikto, Ph.D, pada acara Rapat Kerja Teknis (rakernis) lingkup Pusat Litbang Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) di Singhasari Resort, Batu, Malang, 24 April 2014, menyampaikan konsep pemikirannya tentang strategi peningkatan penguasaan IPTEK kelautan dan pesisir dalam mendukung peningkatan daya saing untuk pemanfaat sumberdaya alam kelautan dan perikanan.

Beliau yang pernah mengabdikan diri di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebagai Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), dan pernah juga sebagai Sekretaris Jenderal KKP, menegaskan bahwa Laut dan pesisir adalah suatu kekayaan sumberdaya alam untuk pembangunan ekonomi. Bidang ekonomi kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan adalah industri kelautan; perikanan tangkap; bioteknologi dan genetika; budidaya laut; transportasi dan logistik; wisata bahari; pengelolaan dan standarisasi produk; ikan hias; energi terbarukan; pertambangan di lepas pantai.

Berdasarkan analisinya, Prof. Widi, begitu panggilan akrabnya, menilai bahwa Indonesia sudah waktunya tidak mengekspor sumberdayanya dalam bentuk bahan mentah, tetapi sudah harus diolah agar nilai ekonominya lebih tinggi. Didalam proses peningkatan nilai ekonomi tersebut maka secara otomatis juga akan meningkatkan pengembangan teknologi pendukungnya. Indonesia pada 2012 (populasi/GDP) 237,6 juta/ 848 USD milyar, sedangkan Nigeria 170,1 juta/242 USD milyar di tahun 2012 kemudian pada tahun 2013 sudah bisa mengungguli Indonesia dengan nilai GDP 510 USD Milyar. Indonesia dan Nigeria sama sama memiliki sumberdaya alam yang sangat tinggi, sehingga Indonesia juga berpotensi untuk bisa lebih baik di kemudian hari. Masalah yang masih dihadapi oleh indonesi adalah terkait Human Development Index (HDI) yang memiliki status peringkat kelima (terendah) di 2013 setelah Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Indeks tersebut berdasarkan health, education, social integration sebagai indikator survival rate. Dimana indeks terendah tersebut di Indonesia dikontribusikan oleh masyarakat pesisir.

Tantangan yang lain, Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang rawan bencana. Luasan indonesia adalah seluas Amerika Serikat dari kota Portland hingga Washington DC. Jika dibandingkan dengan Benua Eropa, luasannya dari ujung selatan Inggris hingga Iran. tetapi Indonesia sepertinya belum bisa mengelola dengan benar sumberdaya alam yang dimilikinya. Sehingga pengembangan infratruktur dan sarana transportasi yang menghubungkan seluruh pulau dan kepulauan nusantara adalah penting. Wisata bahari sangat berpotensi menjadi salah satu produk jasa kelautan yang dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pulau pulau kecil.  Energi terbarukan menjadi penting untuk dikembangkan untuk operasional fasilitas di pulau-pulau kecil yang jauh dari jalur grid listrik nasional. Tantangan lainnya akibat dari peningkatan populasi dan eksploitasi sumberdaya alam adalah masalah environmental control yang kopling dengan dampak perubahan iklim.

Dalam sesi yang cukup hangat dengan diskusi yang dinamis dan positif tersebut, dihadiri pula oleh Ibu Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Airlangga Surabaya.

Baca juga berita:

 


Last Updated on Thursday, 24 April 2014 14:11
 

Reportase Rakernis P3SDLP 2014: Research and Company Linkage To The Earth System Science

E-mail Print PDF

Pada tanggal 24 April 2014, dilakukan pembukaan acara Rapat Kerja Teknis (Rakernis) lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) 2014. Sambutan selamat datang kepada peserta rakernis diberikan oleh Ibu Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan, mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Misi Pemerintah Kota Batu adalah berupa pertanian organik berbasis sektor pariwisata, yang dikontribusikan oleh sektor perikanan air tawar, sekilas dipaparkan beliau pada 24 April 2014 di Singhasari Resort.

Kepala P3SDLP, Dr. Budi Sulistiyo, dalam laporan resminya dihadapan peserta rakernis, melaporkan capaian kinerja 2010-2013 satker P3SDLP dan satker Loka Penelitian Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir (LPSDKP), yakni tentang basis data laut dan pesisir, hasil litbang bahan kebijakan dan kemajuan IPTEK, dan kerjasama penelitian. Pada akhir tahun 2019 diproyeksikan tercapainya 10 tematik produk hasil litbang untuk para pengguna baik kebijakan institusi maupun komunitas keilmuan kebumian, 9 paket program pengembangan kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia, pengembangan dan penguatan kerjasama di bidang “earth system science” nasional-regional hingga internasional.

Rakernis 2014 yang berlangsung 23 – 25 April ini, dibuka secara resmi oleh (pelaksana tugas) Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan, Dr. Achmad Poernomo. Dalam arahan dan kebijakan penelitian dan pengembangan kelautan dan perikanan yang dipaparkannya, tahapan pembangunan dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) 2005-2025, dimana pertanyaan yang mendasar kemudian adalah, akankah litbang kelautan dan perikanan akan menjadi pendukung primer untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Ditegaskan pula oleh beliau yang saat ini juga masih menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut, bahwa penelitian di Badan Litbang Kementerian Kelautan dan Perikanan harus mendukung sasaran prioritas nasional, mengawal indikator kinerja utama (IKU) utama kementerian, meningkatkan kualitas sektor kelautan dan perikanan, dan harus menjaga komitmen dengan internasional. Arahan utama untuk rancangan awal RPJMN 2015-2019, muatan kelautan harus lebih diseimbangkan dengan muatan perikanan. Sehingga KKP telah menyampaikan 9 komponen dalam usulannya untuk RPJMN 2015-2019. Kebijakan: Memperkuat IPTEK Kelautan & Perikanan untuk meningkatkan Ketahanan pangan, daya saing dan kelestarian sumberdaya alam. Strategi: memperkuat basis data, memperkuat inovasi teknologi, pemilihan komoditas dan pengelolaan sumberdaya, meningkatkan kemampuan komersialisasi melalui penguatan diseminasi dan pendekatan Research and Company Linkage (RCL), meningkatkan kapasitas sinergi dan integrasi litbang dengan intitusi pengembang kelautan yang lain.

Konsep Laut menurut pemikiran Dr. Achmad Poernomo adalah suatu lingkungan didalamnya terdapat berbagai sumberdaya dan sarat dengan berbagai kepentingan berbagai pihak. Sehingga hal yang terkait dengan laut namun diluar hal yang disebutkan dalam Undang Undang Perikanan dapat diasumsikan sebagai ranah kelautan. Kelompok: pemahamana fenomena, karakteristik, dan dinamika laut; identifikasi dan pemanfaatan sumberdaya non hayati, pesisir dan estuaria, pengembangan produk bioteknologi kealutan, identifikasi dan pemanfaatan jasa kelautan; pembuatan, pemanfaatan dan pengakatan bangunan laut; dan lain sebagainya. Berdasarkan konsep tersebut maka sebagai IKU Sektor Kelautan 2015-2019 yang akan diangkat dalam RPJMN ketiga yang diusulkan oleh Badan Litbang KKP antara lain: pengembangan wawasan dan budaya bahari; peningkatan dan penguatan sdm dan iptek bidang kelautan; pembinaan tata kelola laut; pengembangan ekonomi kelautan; mitigasi bencana penanggulangan pencemaran laut.

Pak Ipung, begitu panggilan akrab untuk Dr. Achmad Poernomo, juga mengingatkan kepada para peneliti peserta rakernis tentang penyelenggaraan litbang berdasarkan PP No. 30/2008. Dimana penyelenggaran litbang terdapat kategori penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan eksperimental. Badan Litbang KKP secara amanat peraturan pemerintah tersebut tidak diperbolehkan melakukan penelitian dasar yang seharusnya hanya dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dan litbang non kementerian. Menyikapi peraturan tersebut, Badan Litbang KKP mulai 2015 masih memberikan kebijakan untuk melakukan penelitian dasar. Penelitian dasar yang diperbolehkan oleh satker adalah dengan proporsi 20% dan harus bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga litbang non kementerian yang memang diperlukan untuk mendukung litbang terapan (40%) dan pengembangan eksperimental (40%), dimana setiapnya (5%) adalah didedikasikan untuk kegiatan sinergitas antar satker eselon II lainnya.

Diharapkan nantinya 2015-2019 keberhasilan penerapan teknologi kelautan dapat dipantau dan diukur tingkat keberhasilannya melalui indikator: teknis (meingkatkan produksi, sederhana, peeliharaan mudah), ekonomis (biaya mudah terjangkau, pemasaran mudah), sosial, lingkungan, kelembagaan.setelah itu dimonitor adopsi dan dampaknya. Upaya peningkatan adopsi, diharapkan Badan Litbang mengeluarkan rekomendasi teknologi dan Clearing House, penyegaran teknologi bagi penyuluh, iptekmas, dan adanya balai alih teknologi kelautan dan perikanan.

Baca juga berita:

 


Last Updated on Thursday, 24 April 2014 12:17
 

Reportase Rakernis P3SDLP 2014: The 14 Years (2000-2014) Achievement of Wilnon & P3SDLP

E-mail Print PDF

Dr. Agus Supangat, anggota Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), memaparkan dongeng perubahan iklim dan mekanisme kerja “Science to Policy” di hadapan peserta Rapat Kerja Teknis (rakernis) Pusat Litbang Sumberdaya Laut & Pesisir (P3SDLP), pada 23 April 2014, di Singhasari Resort, Batu, Malang. Beliau adalah salah satu pendiri Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-Hayati (Wilnon) pada masa awal berdirinya Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) sebagai Kepala Bidang Sumberdaya Non-Hayati, dan menginisiasi kerjasama antara BRKP dengan CSIRO Australia di bidang Global Ocean Observing System (GOOS) menggunakan Argo Float. Pakar Variabilitas Iklim-Laut tersebut menyampaikan bahwa salah satu “core” keilmuan yang masih harus di-update dan menjadi bidang kepakaran generasi muda Pusat Litbang Sumberdaya Laut dan Pesisir (P3SDLP) adalah terkait penyajian hasil litbang variabilitas iklim kelautan menjadi bahan kebijakan nasional dan bahan negosiasi di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Dr. Safri Burhanuddin, salah satu pejabat di Kementerian Negara Kesejahteraan Rakyat, menceritakan evolusi Badan Litbang Kelautan dan Perikanan yang diawali dengan nama Direktorat Jenderal Penyerasian Riset dan Eksplorasi Laut (Ditjen PREL) yang sempat berkantor di Kompleks Istana Merdeka di Jalan Veteran pada awal berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan di tahun 2000, dengan kegiatan riset pertamanya adalah Riset Garam. Ditjen PREL, yang kemudian menjadi BRKP, dimana WILNON melakukan riset kelautan yang belum dilakukan oleh institusi riset kelautan lainnya, seperti: dirintisnya Ekspedisi Antartika, Ekspedisi Wallacea Indonesia, Ekspedisi Geologi Laut, dan Ocean Policy. Kata kunci penting yang harus dipegang oleh generasi muda P3SDLP dalam bekerja di bidang (litbang) kelautan adalah “Pada Suatu Saat Nanti, Kebijakan pemerintah Indonesia Pasti Akan Beralih ke Laut”, demikian pesan dari Dr. Safri Burhanuddin.

Dr. Sugiarta Wirasantosa, memulai kiprahnya mulai dari riset di Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kemudian ditugaskan bergabung memperkuat Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2000 sebagai salah satu direktur di Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan sebelumnya kiprahnya sebagai Kepala Wilnon kedua di BRKP. Dalam presentasinya terkait sejarah perkembangan litbang kewilayahan laut, beliau membawa para peserta rakernis kepada perjuangan Indonesia pada UNCLOS dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Terkait hal tersebut, beliau juga menekankan pentingnya litbang Blue Carbon yang dapat dilihat dari berbagai sisi kelitbangan untuk dikaji dan dibawa ke ranah kebijakan pemerintah sehingga peran P3SDLP dapat lebih luas dan mendalam.  Saai ini Dr. Sugiarta Wirasantosa masih aktif sebagai supervisor litbang di P3SDLP.

Dr. Hartanta Tarigan, seorang dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang kemudian memulai kiprahnya di Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2000. Pada awal berdirinya Wilnon, ada satu pusat litbang kelautan lagi yang bernama Pusat Riset Teknologi Kelautan (Tekla) yang selalu menjadi saingan positif Wilnon dalam melaksanakan litbang kelautan. Usai bertugas menjadi Kepala Tekla, beliau menjabat sebagai Direktur Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. Saat ini beliau ini masih aktif sebagai supervisor litbang di P3SDLP.

Hadir pula anggota keluarga besar lainnya yang pernah mengabdi dan berkontribusi terhadap pengembangan kapasitas Wilnon/P3SDLP seperti Yudi Kaelan, B.Eng. (Kepala Bidang Tata Operasional pertama P3SDLP, saat ini sebagai Kepala Bidang Pelayanan Teknis Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan), Sardjono, SE. (Kepala Sub Bid. Tata Usaha 2012, yang saat ini menjadi sekretaris Indonesia China Center Ocean Climate), Ahmad, ST. (Staf ahli Kepala Wilnon pertama, yang saat ini sebagai pejabat eselon 4 di Kemenko Kesra), Kiswanto, SE. (Kepala Bid. Monev, yang sudah purna tugas tahun 2012) dan Dewi Astikawati, M.Si (Kepala Sub Bid. Monitoring 2012, saat ini aktif sebagai Kepala Sub Bag. Perpustakaan Sekretariat Badan Litbang KP).

Pada kesempatan tersebut, Sdr. Alipudin dan Sdri. Ratna sebagai staf bagian keuangan staf P3SDLP telah memberikan dedikasi dan kontribusinya sehingga P3SDLP meraih predikat terbaik kedua rekonsiliasi laporan keuangan lingkup mitra Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta VI, diberi kesempatan berfoto bersama dengan para sesepuh pendiri Wilnon dan P3SDLP.

Baca juga berita:

 


Last Updated on Thursday, 24 April 2014 16:45
 

Reportase Rakernis P3SDLP 2014: Engaging with Regional & International Research Network

E-mail Print PDF

Kerjasama Litbang (Research & Development Cooperation), adalah topik hangat pertama yang menjadi bahan diskusi dari sesi pertama Rapat Kerja Teknis (Rakernis) P3SDLP tahun 2014 di Singhasari Resort, Batu, Malang, pada 23 April 2014.

Kepala Bidang Pelayanan Teknis, Dr. Tukul Rameyo Adi, memimpin acara diskusi yang cukup hangat tersebut. Sejumlah pemikiran dilontarkan oleh para peserta rakernis terkait untuk meningkatkan peran kesetaraan P3SDLP didalam berbagai kerjasama litbang. Kepala Sub Bidang Kerjasama. Ir. Triyono, DEA, akan memfasilitasi kerjasama yang sudah berjalan hingga saat ini dan tentunya akan mendukung usulan-usaln kerjasama baru. Tentunya hal ini sangat disemangati karena, dengan era global teknologi seperti sekarang ini, jaringan litbang regional semakin tumbuh pesat di kawasan Asia-Pasifik, alangkah baiknya jika Indonesia c.q. P3SDLP untuk ikut berpartisipasi aktif bergabung didalam berbagai jaringan tersebut agar semua data dan informasi terkait lautan Indonesia dapat terkompilasi dengan baik. Kompilasi tersebut, kedepan, akan dikemas kedalam suatu sistem basis data yang terintegrasi dengan baik yang dapat digunakan oleh komunitas peneliti dan komunitas publik yang lain, demikian yang disampaikan oleh Kepala Sub Bidang Dokumentasi dan Perpustakaan, Drs. Agus Hermawan.

Saat ini tercatat beberapa upaya P3SDLP didalam mewujudkan impian tersebut diatas. Laboratorium Data Laut dan Pesisir (Marine & Coastal Data Laboratory) sudah dirintis sejak pertengahan tahun 2012, Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) secara bertahap diisi dengan informasi karakteristik laut dan atmosfer, Sistem Informasi Garam Terpadu (SITEGAR) yang diresmikan di akhir tahun 2013 segera akan beroperasi penuh, Indonesia Ocean Forecasting System (InaOFS) yang sejak awal tahun 2014 menampilkan prediksi arus dan temperatur laut indonesia.  Hal ini dicermati oleh salah satu peserta rakernis, peneliti yang berkecimpung di bidang oseanografi informatika, Eva Mustikasari, MT, menurutnya  bahwa program-program rintisan tersebut diproyeksikan akan lebih berdampak positif dan mengisi rencana kerja P3SDLP 2015-2019 apabila dikelola lebih khusus sebagai unit tersendiri.

Baca juga berita:


Last Updated on Wednesday, 23 April 2014 17:16